Wednesday, February 3, 2016

Ayo blogging!



Ayo blogging! Sesuai dengan judul, inilah yang hendak penulis sampaikan kepada kita semua, guna membangkitkan kembali semangat para blogger untuk eksis mengisi blog masing-masing yang mungkin sudah cukup lama—entah itu beberapa bulan atau bahkan tahunan—ditinggalkan.
Penulis sempat kaget ketika hari ini (3 Februari 2016) iseng-iseng mengecek sejumlah page maupun group blogger yang ada di situs jejaring sosial FB. Kendatipun sejumlah page dan group tersebut memiliki pengikut atau anggota yang rata-rata mencapai empat digit, tetapi rata-rata postingan terakhir yang terlihat adalah antara 2013 hingga 2014. Apa artinya ini?!
Benar sekali! Bisa dikatakan, selama 2015, aktivitas blogging di dunia maya cenderung lesu. Sedikit banyak, penulis memprediksikan hal tersebut dipengaruhi oleh tren baru, di mana netizen kini cenderung lebih memilih memublikasi berbagai hal melalui situs-situs jejaring sosial, seperti FB, IG, dan yang sejenisnya. Di samping itu, peraturan Google yang kerap ketat dan keras bagi para blogger untuk memperebutkan posisi unggul di mesin pencari, juga mengakibatkan blogger-blogger pendatang baru cenderung lebih memilih media jejaring sosial yang ramai, daripada media weblog yang seringnya sepi kunjungan ketika masih seumur jagung.
Kebiasaan penggguna internet juga berpengaruh terhadap turunnya minat blogging. Kita ambil satu contoh, ketika dalam sebuah jejaring sosial terdapat sebuah postingan yang dianggap menarik, maka para netizen dengan inisiatif sendiri untuk membagikannya, kemudian yang lain juga mengikuti jejak tersebut, sehingga dalam waktu singkat saja postingan itu menjadi populer. Sementara kalau di weblog, meskipun terdapat menu share, 99 dari 100 visitor cenderung hanya membacanya untuk diri sendiri, kemudian tak merasa perlu untuk membagikannya kepada yang lain. Apa sebab?
Mengenai masalah share atau tidak, hal itu mungkin disebabkan oleh adanya fitur kustomisasi tampilan pada setiap blog, sehingga beda blog beda rasa, dan visitor yang baru sekali dua kali berkunjung tidak begitu akrab dengan menu share yang entah diletakkan di bagian mana. Kalau di jejaring sosial, tampilan lebih ramah pengguna. Posisi dari menu share yang terdapat pada setiap akun juga sama. Jadi, kecanggihan dari fitur kustomisasi tampilan sebuah weblog, justru juga menjadi bagian dari kekurangannya.
Menyadari hal tersebut, dalam berbagai kesempatan penulis juga menyampaikan kepada sesama blogger untuk tidak melakukan kustomisasi berlebihan terhadap blog yang ada, sampai-sampai mengurangi kenyamanan visitor. Sebuah tampilan weblog yang baik ialah cantik, tetapi sederhana sekaligus ringan dan mudah diakses sekalipun dalam kondisi koneksi internet lemah.
Menoleh ke belakang
Sangat disayangkan memang apabila sebagai blogger kita membiarkan tren blogging secara perlahan meredup begitu saja tanpa adanya upaya untuk memperbaiki kondisi. Sebagai blogger, sudah semestinya bertanggung jawab untuk memelihara budaya blogging yang padahal sudah bertahan cukup lama.
Blogging sendiri juga bukan hal yang tidak bermanfaat. Melalui aktivitas tersebut, kita dapat melatih kemampuan menulis, mengasah pengetahuan, sekaligus berbagi ilmu kepada visitor. Ketika semua dari kita beranggapan bahwa Google adalah sumber ilmu pengetahuan atau informasi, maka sesungguhnya apa yang ditampilkan oleh mesin pencari itu ialah sebagiannya merupakan postingan dari berbagai blog yang dianggap relevan. Kita bisa membandingkannya, ketika Google justru menampilkan hasil pencarian yang bersumber dari postingan situs jejaring sosial, apa yang sering terjadi ialah ketika kita klik link tersebut, di dalamnya kita tidak menemukan apa yang sesuai dengan yang ditampilkan di luar tadi. Dan hal tersebut bisa terjadi karena dalam situs jejaring sosial sering kali sejumlah postingan ditampilkan sekaligus dalam satu URL yang sama (umumnya home), sehingga seiring tingginya pemakaian pemilik akun, postingan itu telah turun ke bawah hingga entah hilang ke mana, sementara yang terekam oleh Google justru masih berupa data lama.
Menyadari perbedaan kualitas hasil temuan Google terhadap postingan weblog dan jejaring sosial seperti yang dijelaskan di atas, kita dapat menarik benang merah, blog atau weblog masih menjadi sumber hasil pencarian Google yang lebih relevan. Ketika kita dengan mudahnya membiarkan tren blogging meredup begitu saja hingga mungkin suatu saat akan benar-benar ditinggalkan, kemungkinan besar ialah Google di masa yang akan datang tak akan ‘secerdas’ sekarang lagi. Ini memang hanya sekadar prediksi yang tidak mutlak, sementara teknologi dan internet cenderung berkembang pesat, kemudian sulit diprediksi ke depannya akan ada hal baru apa yang lebih potensial. Namun, tak ada salahnya sebagai blogger kita tetap mempertahankan tren tersebut, sekaligus saling melengkapi informasi di dunia maya yang mungkin akan bermanfaat bagi orang lain.
Tahun 2009 mungkin menjadi masa berjayanya tren blogging. Kala itu, para blogger mungkin hampir setiap hari mengisi blognya seperti ketika sekarang kita setiap hari mengisi postingan pada akun jejaring sosial kita. Dan semangat blogging di masa itu perlu kembali dikobarkan. Kalaupun kita memang tidak memiliki waktu untuk setiap hari mengisi blog, cobalah seminggu sekali, atau sebulan sekali. Jangan menelantarkan ‘rumah’ dunia maya kita!
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 9:50 PM
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

No comments:

Post a Comment

Silakan centang "Notify me" agar Anda memeroleh pemberitahuan.

Entri Populer