Tuesday, December 23, 2014

Shinigami’s Eye (Bab 6)

Oleh: Lea Willsen


Bab 6
ANGIN berderu keras. Dalam dimensi gelap itu, Leysa terus berlari dan mencari papanya.
“Papa! Papa! Di mana kau?!” teriak Leysa. Nafasnya ngos-ngosan. Sekujur tubuhnya bermandikan peluh.
“Leysa...! Leysa...!” Sayup-sayup terdengar pula suara Katada memanggil nama putrinya.
“Papa! Di mana kau?!”
“Aku di belakangmu...” Tiba-tiba suara itu menjadi terasa dekat.
Leysa pun berpaling dan menemukan sosok papanya. “Papa! Aku sedari tadi mencarimu...”
Katada tersenyum. “Selamat tinggal, Leysa...”
“Hah?! Papa mau ke mana?!”
“Papa telah dipanggil untuk menjadi korban berikutnya...” Begitu selesai berbicara, Katada pun menghilang dalam gelap.
“Papa! Papa! Jangan meninggalkan kamiii...!” Leysa pun terjaga.
Braaak! Pintu terbuka. “Ada apa Leysa?!”
“Mama! Di mana Papa?”
“Kau mimpi buruk...?”
“Di mana Papa?” Leysa bertanya sekali lagi.
“Papa baru saja keluar.”
“Papa ke mana? Sekarang jam berapa?”
“Barusan Papa menerima telepon dari rekannya, katanya seorang pekerja mereka tiba-tiba menghilang entah ke mana. Sekarang baru jam setengah dua belas malam. Tidurlah kembali. Kau baru tertidur sekitar satu jam sedari tadi.”
Leysa menatap berkeliling. Tunggu dulu, ke mana perginya si wanita berbaju merah, pria tanpa busana, dan juga si kakek cengeng yang terus-menerus menangis? Mereka tak terlihat lagi, atau memang sudah menghilang? Tak biasanya mereka tak mengganggu Leysa. Kalau si cebol memang tak selalu muncul. Tapi biasanya yang lain tak pernah tak ada. Leysa merasa heran. Entah mengapa, kendati ketiga makhluk itu tak lagi mengganggunya, namun firasatnya tak begitu enak. Ia merasa telah—atau akan segera—kehilangan sesuatu.
Tiba-tiba ia menangkap sesuatu yang bercahaya di genggaman mamanya. Sebuah salib!
“Ma, bukankah salib itu milik Papa?”
“Oh, ini?” Linda memandangi salib pada genggamannya. “Tadi sebelum pergi kalung di leher Papa putus, dan ia menitipkannya kepada Mama. Mama sedang coba memperbaikinya, dan ternyata bisa. Mumpung hari ini Radhi tertidur pulas, jadi Mama punya sedikit waktu.”
“Sejak kapan Papa mengenakan salib? Bukankah biasanya Kakek dan Papa selalu berbangga diri mengaku mereka manusia tak beragama?”
Linda tersenyum. “Salib ini ditemukannya saat membersihkan gudang di lantai dasar pada hari kedua kita datang. Semula terlihat hitam dan kotor. Tapi setelah dicuci ternyata masih terlihat cantik. Sepertinya papamu hanya mengenakannya sebagai aksesori.”
“Mungkinkah berkat salib ini...?” gumam Leysa nyaris tak terdengar.
“Kau bilang apa?”
Leysa menatap wajah mamanya. “Ma, kau pernah melihat hantu?”
Linda tersentak. “Jangan membicarakan itu...”
“Tapi Papa bilang Mama yang setiap hari membicarakannya?”
Linda menghela nafas. “Mama tak dapat melihatnya. Tapi Mama selalu merasa tak nyaman di rumah ini...”
“Bukankah biasanya kalian tak pernah merasa seperti itu di tempat lain?”
“Ya...”
“Itu karena di sini jumlah mereka sangat banyak, Ma. Aku melihatnya dengan jelas! Aku takut...”
“Leysa... Mama sudah mendengarnya dari Papa tadi sore. Kita tak punya pilihan lain. Papamu berencana akan mencari sebuah rumah sederhana lain. Semoga saja kita dapat segera pindah.”
Leysa tertunduk. Malam ini berbeda. Makhluk-makhluk itu semua pergi ke mana?
“Leysa...” Linda menyerahkan salib di tangannya kepada Leysa. “Bawalah ini jika kau takut. Semoga Tuhan Yesus melindungi putri Mama...” Linda mengecup kening putrinya. “Tidurlah, Nak...”
Leysa jarang mendengar mamanya menyebut Tuhan. Namun setahunya, sebelum menikah dengan Papa, keluarga Mama menganut agama Kristen.
***

Kembali ke Prolog untuk membaca bab lain.
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 12:43 PM
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

No comments:

Post a Comment

Silakan centang "Notify me" agar Anda memeroleh pemberitahuan.

Entri Populer