Tuesday, December 23, 2014

Shinigami’s Eye (Bab 5)

Oleh: Lea Willsen


Bab 5
PADA malam malam berikutnya, Linda masih terus merasakan kejadian-kejadian aneh lainnya, seperti sandal yang berpindah tempat, pintuk yang malam-malam diketuk, lampu teras yang tiba-tiba menyala, suara tangisan di koridor, suara alat musik di lantai tiga, keran di kamar mandi yang tiba-tiba terbuka, dan juga suara-suara pria yang menjerit-jerit entah dari mana arahnya.
Selain itu, Radhi si bungsu juga setiap malam menangis tak henti-hentinya. Linda takut suara tangisan Radhi akan membuat Katada tak dapat tidur nyenyak—sementara esok masih harus bekerja di kebun—maka Linda selalu membawa Radhi turun ke ruang utama lantai dasar.
Bukan hanya itu, Randy juga sempat bercerita, suatu malam ketika ia keluar dari kamar untuk mengambil air, terdengar suara Leysa yang memanggil-manggil namanya. Namun saat disahut, suara itu pun menghilang. Dan ketika ia hendak kembali ke kamar, terdengar suara bola besi yang terseret-seret di tangga lantai dua menuju lantai tiga.
Dan berbeda lagi dengan apa yang dialami oleh Leysa. Setiap malam ia melihat sesosok wanita berbaju merah yang terbang ke sana kemari di atas langit-langit kamarnya. Sesosok pria tanpa busana mengamatinya semalaman dari arah pintu. Dan sesosok kakek tua yang tak henti-hentinya menangis di sisi ranjang. Belum lagi sesosok cebol yang kadang muncul kadang tidak. Cebol itu paling mengganggu. Dia senang menarik rambut Leysa, menciptakan bunyi-bunyian aneh dengan sebuah terompet kecil yang selalu bergelantungan di lehernya, dan juga mendekatkan jari-jarinya di wajah Leysa serta mengancam akan mencungkil mata Leysa. Selama seminggu tinggal di rumah itu, nyaris tak ada satu malam pun Leysa dapat tidur nyenyak. Sebagai pemilik shinigami’s eye, ia dapat melihat serta merasakan gangguan-gangguan makhluk halus itu, melebihi apa yang dapat dirasakan oleh anggota keluarga lainnya. Ia tahu secara pasti bahwa rumah mewah yang mereka tempati sangat angker dan tak seperti tempat-tempat lainnya. Tetapi, ia tak berani menceritakannya kepada anggota keluarga lainnya.
Yang sulit dipercaya, selama seminggu tinggal di rumah mewah itu, Katada sama sekali tak merasakan hal aneh apa pun.
***
“BAGAIMANA kalau kita pindah saja?” tanya Linda hati-hati.
Katada tak menjawab.
“Betul, Pa... Randy takut...,” timpal Randy.
Katada pun menghela nafas. “Pindah ke mana? Rumah ini tersedia secara gratis, mewah dan indah. Kita tak mungkin meminta perusahaan memberikan rumah lain lagi, ‘kan? Itu mustahil...”
“Tapi, Katada... Sepertinya ada sesuatu yang aneh di sini...”
“Betul, Pa! Rumah ini angker!”
“Randy..., jangan ikut campur...”
Randy tertunduk.
“Kalian setiap hari membicarakan hal ini. Tapi mengapa aku tak pernah sekali pun merasakannya? Sepertinya kalian terlalu sering menonton film horor, Suster Mandi, Suster Rangkak, Hantu Jeruk Busuk, Hantu Jamu Pahit, Babi Ngesot, dan lainnya...” Katada pun bangkit dari kursinya, dan berjalan keluar rumah, menuju halaman belakang. Rasanya kesal juga terus-menerus mendengar Linda setiap hari membahas itu-itu saja.
Ternyata di halaman belakang Katada mendapati Leysa. Putri pendiamnya itu sedang membaca sebuah buku.
“Papa...”
“Leysa...” Katada menghampiri Leysa. Tiba-tiba rasanya ada yang ingin ia bicarakan. “Leysa, apa pendapatmu tentang rumah ini?”
“Rumah ini?” Leysa sedikit kaget mendengar pertanyaan itu.
“Benar! Maksud Papa, Mama dan adikmu setiap hari membicarakan yang bukan-bukan tentang rumah ini, tapi Papa tak pernah merasakannya...”
Leysa hanya terdiam.
“Papa tak begitu percaya, karena matamu bisa melihat makhluk halus, tapi kau tak pernah mengeluh. Sementara mata mereka tak dapat melihatnya, tapi justru mereka yang terus mengeluh kepada Papa...” Katada tersenyum sinis.
“Pa...” Leysa tampak ragu. “Apa yang dikatakan oleh Mama dan adik itu benar...”
“Apa?”
“Rumah kita... Seperti sarang hantu...”
Nafas Katada tertahan. Ah, haruskah ia percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Leysa?
Leysa mencengkeram lengan Katada. Nafasnya memburu. Suaranya meninggi. “Jumlah mereka bukan belasan atau puluhan, tapi tak terhitung lagi, Pa! Bentuknya sangat menyeramkan! Aku takut! Aku tak tahan lagi, Pa!” Tangisan Leysa pun pecah dalam dekapan sang Papa.
“Sudah, Leysa... Jangan menangis... Papa akan mencarikan jalan keluar untuk kita... Kita akan pindah begitu Papa menemukan rumah lain...”
Leysa tetap tak dapat membendung airmata. Wajahnya dibenamkan pada dada sang Papa. Di sana ia mendapati sebuah liontin salib yang tergantung pada kalung di leher papanya. Salib itu berkilau-kilauan memantulkan sinar matahari.
***

Kembali ke Prolog untuk membaca bab lainnya.
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 12:32 PM
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

No comments:

Post a Comment

Silakan centang "Notify me" agar Anda memeroleh pemberitahuan.

Entri Populer