Thursday, February 7, 2013

Imlek, antara Aku dan Mereka



Oleh: Liven R

MALAM Sabtu, jam sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB, aku segera berkemas meninggalkan ruang kerjaku. Di jalan, lalu lintas padat. Inilah Kota Medanku, tak pagi, siang atau malam, macet di mana-mana. Mungkinkah karena sebentar lagi Imlek tiba? Batinku.

Sampai di rumah, kulihat Mama sedang merangkai tangkai-tangkai bunga mei di hadapannya. Aku menerawang sekeliling dan langit-langit ruang tamu, aksesori Imlek dengan dominan warna merah terlihat di mana-mana. Ada ikan kertas di bawah lampu gantung; barongsai mainan di dekat jam dinding, sebuah tulisan ‘keberuntungan’ tertempel di dinding; dan banyak burung mainan menempel di gorden jendela ruang tamu.
Aku tersenyum sendiri. Ah, Mama memang selalu antusias dalam merias seisi rumah menjelang Imlek.
“Ma, gorden ini Mama pasang sendiri? Ikan dan stiker itu…?”
“Iya. Semua Mama pasang sendiri. Cantik, ‘kan?”
“Mengapa tak menunggu kami pulang membantumu, Ma?”
“Ah, tak perlu, aku bisa! Lihat! Sudah beres, ‘kan?” potong Mama cepat.
Sebenarnya aku tahu, meminta Mama menunggu kami pulang membantunya hanyalah kalimat klise yang tak pernah menjadi nyata setiap tahunnya. Ya, selain tak ingin melihat kami lelah, Mama tak begitu suka dibantu dalam bekerja. Semua tak sesuai seleranya. Jika sudah begitu, Mama tak segan melarang siapa pun menyentuh barang-barangnya.
Tahun lalu saja, abang ipar harus tersenyum pasrah tatkala menerima kritik dari Mama atas bantuannya memasang kuplet Tahun Baru di depan pintu. Ih, itu terlihat miring! Kalian empat orang membantu lihat, pun bisa lihat sampai miring…., begitulah ujar Mama kepada kami.
“Melvian, kamu tahu? Ikan itu pemberian Tante Ami,” ujar Mama dengan senyumnya.
“Ohh… Kalau stiker itu?”
“Itu Mama beli tempo hari. Bagus, ‘kan?”
“Kalau bunga mei ini setangkai berapa? Kuplet dan hiasan mercon ini beli di mana, Ma? Berapa harganya?” Aku menunjuk aksesori Imlek yang belum terpasang di atas meja.
Mama menatapku gemas. “Kamu tim KPK, ya? Mau tahu saja….”
            Kami tertawa lepas.
“Tunggu…!” Mama beranjak ke belakang dan kembali dengan sebuah kantung plastik besar. “Ini…,” lanjutnya lagi sambil menyodorkan bungkusan itu kepadaku.
“Apa ini?”
“Baju baru. Tadi Mama ke pasar dan memilihkan kalian masing-masing dua pasang.”
Aku mengeluarkan baju-baju itu. Ada empat pasang di dalamnya.
“Usah memilih. Sudah dipilih Cici (Kak) Jovian dan Cici Sepvian. Sisa yang dua itu punyamu….”
Aku mengerucutkan wajahku. Selalu begitu! Tapi, bukankah semua sudah dipilihkan oleh Mama sebagai yang tercantik di antara semua yang ada di lapak baju itu? Aku mengeluarkan jurus menghibur diri sendiri!
“Kamu pakai baju apa pun tetap cantik ‘kan?” hibur Mama.
Aku diam dan berpura-pura marah.
“Kecuali dengan muka mirip jeruk purut seperti ini…. Pakai baju apa pun jelek!” imbuh Mama lagi.
Aku tak bisa menahan senyum.
“Sudah punya berapa pasang baju baru?”
Aku mencoba mengingat-ingat. Baju yang kubeli sendiri…, ada juga pemberian Ci Jovian dan Ci Sepvian, hadiah ulang tahun dari Bibi Hua tempo hari, baju pilihan Paman Yuan saat dia berlibur ke Paris, dan…. Astaga! Tak habis kupakai hingga lewat malam Imlek ke limabelas sekalipun!
“Bagaimana? Sudah berlebih, ‘kan?”
Aku mengangguk.
“Kalau begitu, ini Mama bawa saja untuk berbagi kasih ke panti asuhan lusa, ya?”
“Ah, Mama…! Keterlaluan nggak, sih? Sudah tak berhak memilih, sekarang malah…,” Aku memeluk erat kantung plastik hitam beserta isinya itu. “Barang yang sudah diberikan, tak boleh diminta kembali! Jika tidak….” Kalimat ultimatum kukibarkan ke udara.
Aku tahu Mama hanya bercanda. Namun, diam-diam aku tersenyum dan menyetujui ucapan Mama. Beberapa helai baju bekas layak pakai akan kupilihkan juga nanti.
***
Imlek hari pertama.
Pagi-pagi, kami sudah bangun. Mama segera menjerang air gula dan memasak onde-onde, kebiasaan yang selalu dilakukan kami di pagi hari Imlek, yang melambangkan keutuhan dalam segala hal, dan dilanjutkan dengan menikmati kue lapis legit yang melambangkan harapan akan meningkatnya segala usaha, kesehatan, dan kesuksesan seluruh anggota keluarga.
Telepon di ruang keluarga sebentar-sebentar berdering. SMS pun tak kalah ramai. Ucapan ‘gong xi fa cai’ menggema di dunia nyata maupun maya sebagai doa dan harapan akan tahun yang lebih baik lagi.
 “Tambah pintar, sehat selalu, ya,” ucap Mama saat memberiku angpao. Ah, ini ucapan yang sudah kudengar sejak aku duduk di bangku TK A. Hanya saja, dulu ucapan itu ditambah dengan ‘cepat besar dan jadi juara, ya’. Tapi, dengan atau tanpa kedua kata itu, aku tetap menyukai angpao pemberian Mama, terutama isinya! O ow!
Seusai sarapan, seperti kebiasaan kami bertahun-tahun, setelah paman, bibi, dan para sepupu tiba, dengan lima mobil keluarga besar kami segera berangkat bersama mengunjungi tujuh vihara yang tersebar di Kota Medan untuk mendoakan segala kebaikan untuk tahun yang baru ini.
“Ada kru Metro TV, Cici Mel…,” ucap Elin, putri Paman Yuan, demi melihat beberapa orang berpakaian lengkap atribut Metro TV, setibanya kami di vihara keempat, Vihara Borobudur.
“Boleh narsis, dong, jarang ada kesempatan masuk tivi, ‘kan?”
Elin tertawa dan kami berjalan menghindari sorotan kamera tim Metro TV yang sedang menyiarkan berita dari Vihara Borobudur.
“Selanjutnya vihara kelima, Setia Budi di Jalan Irian Barat, ya?” komando Nicco, putra tertua Paman Huang kepada kami semua sebelum kembali ke mobil masing-masing.
Memasuki ruas Jalan Irian Barat, lalu lintas terlihat padat. Mobil berjalan merayap mendekati pintu masuk vihara.
Di bahu jalan, di depan bangunan vihara, para penjual bunga menggelar lapak dagangannya. Seorang kakek tua berpakaian sederhana mendekati mobil kami, menawarkan dupa, lilin, dan kertas sembahyang yang digulung menjadi satu paket.
Mama mengangkat tangannya mengisyaratkan ‘tidak’.
Kutatap lama kakek itu hingga mobil melaju meninggalkannya di belakang. Kini, seorang gadis belia turun dari trotoar dan berlari ke arah mobil kami diikuti tiga remaja laki-laki berusia sekitar limabelas tahun. Masing-masing dari mereka berebut menawarkan paket-paket sembahyang yang sama kepada kami dan juga mobil lainnya.
Aku tertegun melihat pemandangan itu. Mereka sama denganku. Kami sama-sama sedang merayakan Tahun Baru Imlek, tapi mereka….
“Lima belas ribu saja, Ci…,” teriak gadis itu sambil menempelkan dagangannya di balik jendela mobil dan terus berlari-lari kecil mengikuti laju mobil. Aku terdiam, namun batinku sibuk berbicara. Ada rasa tak tenang mendadak muncul. Aku tak dapat membantunya dengan membeli dagangannya, sebab meski beragama Buddha, kami sekeluarga menghindari membakar apa pun yang dapat mencemari Bumi. Untuk kami hanya ada penghormatan tertinggi dengan merangkupkan tangan saja saat berdoa.
Karena padatnya umat yang berkunjung, akhirnya kami hanya kebagian tempat parkir di luar area vihara.
Hanya sebentar di dalam Vihara Setia Budi, aku harus keluar karena tak tahan dengan asap dupa yang membuat mataku pedih dan dadaku sesak.
Di dalam mobil aku menunggu anggota lain selesai berdoa. Aku terus memandang para penjaja dupa dan alat sembahyang yang berlarian di tengah-tengah jalanan yang padat itu. Tak ada baju baru melekat di tubuh mereka. Keringat bercucuran di sekujur tubuh. Menantang bahaya demi mendapatkan sedikit keuntungan untuk ditukar makanan, begitulah realita yang sedang berlangsung di depan mataku.
Bertahun-tahun lalu, aku juga pernah merasakan Imlek tanpa baju baru. Saat itu, aku seusia gadis belia tadi. Kala itu, aku tak punya baju baru karena Papa baru saja meninggal. Jangankan baju baru, untuk makan selanjutnya saja akan menjadi masalah jika kami tak irit dalam mengelola warisan Papa yang tak banyak itu. Dan, masa lalu itu selalu lengket di benakku dan membuatku lebih memahami arti penderitaan orang lain, terlebih tentang kehidupan yang selalu berubah.
Hidup ini memang tak mudah, tapi selalu ada hikmah yang mengajarkan kita untuk peduli kepada siapa pun selagi sanggup. Bekerja keras untuk kehidupan, kami sama-sama melakoninya, tapi aku mungkin lebih beruntung, kerja kerasku hampir selalu mendapatkan apresiasi tinggi dari atasanku dan memberi hasil ‘cukup’ bagiku.
Aku mengeluarkan sepuluh buah angpao dari dompetku. Sesaat, aku turun dan menghampiri anak-anak itu….
“Mel, kelihatannya gembira sekali, ada apa?” tanya Mama sekembalinya ke mobil.
“Ah, tidak ada…,” jawabku singkat. “Cemara Asri?”
Mama mengangguk. Kami melanjutkan perjalanan menuju vihara keenam dan ketujuh di Cemara Asri.
Aku akan berdoa untuk kalian semua…!
*Gong xi fa cai kepada teman-teman pembaca yang merayakan!

*Medan, Harian Analisa (TRP) 3 Februari 2013
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 9:24 PM
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

No comments:

Post a Comment

Silakan centang "Notify me" agar Anda memeroleh pemberitahuan.

Entri Populer