Sunday, January 6, 2013

Gepeng, Bagian dari Potret Kemalasan Diri



Oleh: Liven R

DEWASA ini, dengan berbagai alasan sulitnya memenuhi kebutuhan hidup, telah menimbulkan fenomena banyaknya gelandangan dan pengemis (gepeng) kita temui di jalanan.
Bukan pemandangan yang asing lagi, di bawah lampu lalu lintas, di trotoar, dan bahkan di badan jalan, kita dengan mudah menemukan sosok gepeng yang kumal, yang anggota tubuhnya dibalut bermeter-meter perban untuk menimbulkan kesan cacat, serta sosok yang menengadahkan tangan kepada tiap kendaraan yang lewat.
Tak hanya itu, selain mangkal di tepi jalan, tak sedikit pula gepeng yang beraksi mendatangi rumah-rumah penduduk untuk meminta belas kasihan. Sungguh hati akan terasa miris melihat penampilan gepeng dengan pakaian yang compang-camping, lusuh, dan tak layak pakai lagi, apalagi ditambah cacat tubuh yang diderita.
Jika sudah didatangi, tentu saja uang barang seribu atau dua ribu akan dengan rela kita berikan dengan alasan kemanusiaan, atau sekadar untuk menumpuk pahala akhirat. Namun, benarkah dengan memberi uang kepada para gepeng kita telah berbuat suatu kebaikan? Jangan-jangan justru sebaliknya!
Penipu Berwajah Pengemis
Di tempat kerja penulis, di bilangan Jalan Sutomo, bangunannya berhadapan dengan sebuah rumah tua yang tak berpenghuni dan memiliki halaman yang ditumbuhi semak belukar dan selalu terbuka pagarnya.
Setiap pagi penulis tiba di sana dan bekerja dengan meja menghadap ke rumah kosong tersebut. Setiap kira-kira pukul 09.00 WIB, akan terlihat seorang wanita muda—berpakaian lumayan bagus—memasuki halaman rumah kosong tersebut. Berselang tak lama, akan datang juga seorang pria muda yang sehat bugar dan masuk juga ke halaman rumah tersebut. Setelah itu, bagaikan pertunjukan sulap atau film super hero yang bisa berubah wujud, keduanya akan keluar dari halaman rumah dalam keadaan telah berganti pakaian compang-camping, dan si pria pun dengan mata terpejam (berpura-pura buta) mulai dituntun berjalan oleh si wanita muda. Begitulah setiap hari mereka berjalan dan berakting dari pintu ke pintu untuk menipu belas kasihan penduduk yang didatangi.
Selain cerita di atas, penulis juga pernah didatangi seorang pemuda—berpakaian hitam-putih—yang mengatakan ayahnya baru saja meninggal dan dia tak punya biaya untuk mengubur ayahnya. Oleh sebab itu, dia terpaksa berjalan ke mana-mana untuk meminta sumbangan.
Setelah diberi dan pergi, tiga bulan kemudian, si pemuda kembali datang dan mengatakan hal yang sama. Dan, sepanjang tahun hal ini dilakukan seolah dia mempunyai begitu banyak ayah yang meninggal dan tak habis-habisnya dikubur.
Lain lagi cerita tentang dua ibu-ibu yang selalu membawa seorang anak kecil dan datang meminta sumbangan dengan alasan untuk biaya pembangunan panti asuhan. Setiap bulan, menjadi kegiatan rutin mereka untuk datang dan mengutip uang sumbangan. Hal ini pun sudah bagaikan iuran bulanan wajib bayar bagi penduduk sekitar.
Suatu ketika karena sibuk, kedatangan mereka pun tak dihiraukan. Apa yang terjadi? Setelah lama memanggil, bagaikan preman, salah seorang ibu pun meludah dan memaki dengan nama-nama binatang, barulah kemudian pergi.
Sikap yang sangat bertolak belakang dengan tujuan mulia yang diucapkannya, bukan? Meminta sumbangan untuk membantu anak yatim piatu, namun ketika tidak mendapat, memaki dengan kata-kata kasar. Pantaskah?
Pendeknya, rasa belas kasihan dan hal-hal dengan alasan kemanusiaan telah dimanfaatkan dan disalahgunakan oleh sebagian masyarakat marginal kita untuk mendapatkan uang secara gampang. Mengemis sudah dianggap sebagai suatu jenis pekerjaan juga.
Bekerja Keras untuk Hidup Sejahtera
Memberi bantuan kepada yang benar-benar membutuhkan, pada dasarnya adalah sikap yang mulia. Akan tetapi, sikap mulia dapat menjadi suatu kebodohan apabila dilakukan tanpa disertai kebijaksanaan.
Beberapa penyebab makin menjamurnya gelandangan dan pengemis di negara kita, salah satunya adalah karena adanya rasa belas kasihan (tanpa kebijaksanaan) yang dilakukan oleh masyarakat kita kebanyakan.
Adalah kenyataan, seorang pemuda pengemis yang masih kuat dan sehat jasmani serta rohaninya, pernah ditawarkan pekerjaan yang pantas dan mampu dilakukannya. Namun,  justru dia menolak.
Penolakan pemuda pengemis tersebut terhadap pekerjaan yang ditawarkan, tentunya dengan pertimbangannya bahwa ‘lebih nyaman mengemis daripada bekerja’. Untuk itu dia tentu saja menolak untuk keluar dari ‘zona nyaman’nya, yakni: mendapat uang tanpa harus keluar tenaga.
Secara etis dan logika, dengan tubuh yang kuat dan mampu berjalan ke mana-mana, seharusnya para gepeng bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa menjadi pengemis. Jika pekerjaan yang mengandalkan otak tak mampu dikerjakan, bukankah masih banyak pekerjaan yang mengandalkan otot dapat dikerjakan?
Dari beberapa fakta yang terlihat, dapat disimpulkan bahwa memberi bantuan sebaiknya tidak dalam bentuk materi yang dapat menanamkan sifat malas dan ketergantungan dalam diri individu penerima bantuan.
Pemerintah maupun yayasan sosial yang ada, diharapkan jika memberi bantuan kepada para gepeng yang masih muda, sehat, dan kuat bekerja, adalah dengan memberi pelatihan dan penawaran pekerjaan sesuai dengan keterampilan masing-masing. Bagi yang sakit, bantuan yang diberikan dapat berupa obat-obatan dan pemeriksaan oleh tenaga medis secara langsung. Dengan demikian, pemberi bantuan akan terhindar dari praktek penipuan dengan modus berpura-pura sakit. Dan, bantuan yang diberikan pun menjadi tepat sasaran dan optimal.
Sesungguhnya, tak ada suatu kondisi hidup apa pun yang mengharuskan seseorang menjadi pengemis, bahkan seorang cacat sekalipun. Sebab, Tuhan selalu menganugerahkan talenta tersendiri bagi setiap makhluk-Nya untuk berkarya.
Yang sering menyebabkan buruknya kualitas hidup seseorang adalah adanya sifat malas dan tidak adanya kemauan untuk berusaha dan memperbaiki kesejahteraan hidup serta status sosialnya.
Sebagai sebuah keteladanan hidup, kita dapat belajar dari semangat hidup sekelompok penyandang cacat fisik yang bernaung di bawah Yayasan AMFPA (Association of Mouth Foot Painting Artists) yang bermarkas di Sidney, Australia, dan memiliki cabang di dua puluh negara di dunia, termasuk Indonesia.
Mungkin Anda pernah menerima penawaran satu set kartu Lebaran, kartu Natal, dan lainnya melalui pos yang dikirimkan oleh para penyandang cacat dari Yayasan AMFPA. Ya, dengan segala keterbatasan, mereka (para penyandang tuna daksa yang menjadi anggota AMFPA) tak patah arang dan terus berkarya (melukis) dengan menggunakan kaki maupun mulutnya.
Berbagai karya lukis mereka pada kartu pos, perangko, dan lainnya kemudian dijual ke seluruh dunia untuk ditukar dengan sesuap nasi.
Bercermin pada mereka, kita akan menyadari bahwa cacat tubuh bukanlah alasan untuk hidup bergantung pada belas kasihan orang lain, terlebih menjadi pengemis.
Jika orang-orang cacat saja mampu mandiri, mengapa orang-orang yang masih/terlahir sehat tak mau menghargai talenta dan menggunakan fisik kuatnya untuk berusaha? Tidakkah kita malu pada mereka yang cacat namun tak henti berkarya?
Sesungguhnya, hidup adalah pilihan. Pilihan untuk menjadi yang terbaik dengan usaha dan kerja keras, atau terpuruk karena kemalasan!
***
Dimuat Harian Analisa, 3 Maret 2012
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 2:58 PM
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

No comments:

Post a Comment

Silakan centang "Notify me" agar Anda memeroleh pemberitahuan.

Entri Populer