Sunday, October 14, 2012

Seribu Kisah Bersama PLN



Seribu Kisah Bersama PLN
Oleh: Liven R

TERLAHIR dan besar di kota metropolitan, Medan, merupakan suatu keberuntungan bagiku. Ya, dibandingkan dengan masih banyaknya saudara sebangsa lainnya yang hidup di daerah pedalaman yang belum terjangkau aliran listrik, maka tak berlebihan jika sering kali ungkapan syukur terhatur tatkala banyak kegiatan yang menjadi teramat mudah dilakukan hanya karena adanya bantuan listrik.
Dalam hal ini, PLN selaku pemasok/pengendali listrik tunggal di Indonesia, tentunya layak mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya, mengapa?
Sebagai masyarakat awam yang hanya tahu menekan stop kontak, mencolok steker dan menikmati berbagai fasilitas/peralatan yang berdaya listrik, mungkin kita tak pernah bertanya maupun membayangkan bagaimana panjang dan rumitnya proses listrik dihasilkan di generator listrik untuk kemudian dapat disalurkan ke rumah-rumah penduduk untuk kita nikmati.
Jika hendak diurai, dalam kenyamanan hidup kita sehari-hari bersama PLN, sesungguhnya terdapat jerih payah yang tidak kecil dari para laskar PLN yang bekerja siang-malam demi memastikan kehidupan masyarakat yang terang, mudah, dan nyaman.
Ironisnya, membicarakan PLN saat ini, dominan kita akan mendengar nada-nada kecewa dan hujatan maupun amarah dari masyarakat luas. Ya, sejak krisis listrik di tahun 2006 melanda negeri kita dan sebagai konsekuensinya maka diberlakukan kebijakan pemadaman bergilir, berbagai bencana dan kecelakaan yang disinyalir merupakan tanggung jawab PLN pun banyak terjadi seperti yang sering kita baca di media massa sebagai headline news: Sejumlah Rumah Terbakar di Saat PLN Padam, atau Sekeluarga Meninggal Dunia Akibat Menghirup Asap Genset Saat Listrik Padam.
Meski serangkaian kecelakaan maupun bencana yang terjadi di saat listrik padam tak sepenuhnya merupakan kesalahan PLN, dan pastinya juga terdapat unsur human error maupun keteledoran manusia yang berperan di dalamnya, namun dari sini kita tahu bahwa listrik berpengaruh besar dalam setiap sendi kehidupan manusia. Dan, tanpa listrik kehidupan manusia tidaklah nyaman!
Sementara, membicarakan tentang aku dan PLN, tak terbantahkan ada banyak cerita yang dapat dibagikan; teringat sebuah pengalaman bersama PLN di tahun 2006. Menjelang pernikahan kakakku, PLN saat itu sedang marak-maraknya mengadakan pemadaman bergilir. Jauh-jauh hari, kami terus berharap giliran gelap tak memilih lokasi kediaman kami tepat pada hari H. Namun, benar saja! Pada hari yang dinanti-nanti, begitu pasangan pengantin tiba, listrik pun padam!
Saat itu, serta-merta tetangga pun menawarkan pinjaman gensetnya yang besar dan segera dihidupkan untuk mengusir kegelapan. Namun, Anda tentu mafhum betapa berisiknya suara genset yang menyala! Riuhnya suara hadirin dan M.C. yang berusaha berteriak sekuat tenaga pun seketika kalah oleh mesin genset yang menyala.
 Akhirnya, pun menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan kala rekaman video pernikahan kakakku (yang terjadi sekali seumur hidup itu) rampung dan di dalamnya berisi gambaran sosok-sosok kami layaknya film pantomim dengan latar suara genset: Brreeettt…! Brreeetttt…! Brrreettt…! Breerrrtt…!
Lagi, pada acara yang sama saat itu, kami mengundang tamu seorang tetua dari negeri Tirai Bambu dengan maksud untuk ikut memberi restu untuk kedua mempelai.
Singkat cerita, sesaat setelah keluar dari lingkungan Bandara Polonia, Medan, listrik di sepanjang jalan padam. Tamu dari RRC tersebut pun terlihat bingung lantaran yang terlihat olehnya adalah pemandangan gelap-gulita di sepanjang jalan.
Kala itu, sebagai warga Indonesia, tentu saja kami membela citra Indonesia habis-habisan dengan berbagai penjelasan, meski fakta menunjukkan beliau tetap kecewa dengan pemandangan yang gelap dan tak sesuai dengan promosi kami saat mengundangnya. (Hehehe…)
Mudah-mudahan, beliau tak pulang dan menceritakan bahwa Indonesia (Medan khususnya) adalah sebuah kota yang gelap dan suram, mengingat dalam seminggu kunjungannya, sedikitnya terdapat 5 x 4 jam kami mengobrol dalam remangnya cahaya lilin.
Melalui pengalaman ini, disadari bahwa PLN selaku pihak pengelola listrik negara, ternyata tak hanya memiliki tanggung jawab memenuhi hajat hidup masyarakat Indonesia akan listrik, namun juga mengemban tanggung jawab dalam membangun citra Indonesia di mata dunia internasional.
Kembali kepada apresiasi terhadap kinerja para laskar PLN, tak dipungkiri bahwa tak sedikit di antara mereka adalah sosok pekerja pemberani dan berdedikasi tinggi. Terbukti, dalam sebuah kasus meledaknya trafo di dekat rumah kami (oleh sebab yang tak diketahui), dua orang petugas PLN segera tiba dan bekerja memperbaiki bahkan hingga lewat jam dua dini hari. Salut!
Namun, membicarakan fakta, tentu juga terdapat laskar PLN yang kurang tanggap ketika menerima laporan dari masyarakat. Sekadar berbagi, sebuah tiang listrik yang terpancang tak jauh dari kediaman kami, Kelurahan Pandau Hulu II, Medan, beberapa waktu yang lalu tertiup angin kencang dan mengalami kemiringan hingga dipastikan akan segera roboh menimpa rumah penduduk.
Setiap pengendara yang lewat di bawah kemiringan tiang listrik tersebut dapat dipastikan akan melafal nama ‘Tuhan’ sebelum lewat. Dan, untuk warga yang rumahnya terancam, apalagi!
Akan tetapi, kemiringan yang telah terjadi semenjak tiga tahun lalu dan telah berulangkali dilaporkan kepada pihak PLN, tak kunjung mendapatkan tanggapan. Bahkan, menghadapi cuaca ekstrem yang kembali terjadi belakangan, warga yang khawatir pun kembali membuat pengaduan dan tetap tak ada tindak lanjut dari pihak PLN.
Hingga suatu pagi, terdengarlah suara ‘BANGGG…!’ disertai getaran dan padamnya listrik. Sebagian warga berhamburan keluar karena mengira telah terjadi gempa bumi. Namun seperti yang telah lama dinyana, tiang listrik miring tersebut telah roboh menimpa atap dua rumah penduduk. Alhasil, listrik di wilayah kediaman kami pun padam selama 10 jam dan penduduk yang rumahnya tertimpa tiang mengalami kerugian tak sedikit.
(Kiri ke kanan, foto pra dan pasca robohnya tiang. Berita terkait juga dapat dibaca di sini

Dari pengalaman yang berharga ini, tidakkah kita semua dan laskar PLN wajib belajar bahwa mengantisipasi bencana akan lebih baik daripada mengevakuasi korban pasca kerugian dan bencana?
Dari sekian banyak kisahku bersama PLN, ke depannya, harapanku (mungkin juga mewakili harapan masyarakat lainnya) PLN mampu terus memberikan pelayanan yang maksimal, bukan hanya dari segi pasokan listrik, namun juga dari segi keamanan dan kenyamanan yang berkaitan dengan listrik dan segala prasarananya, kepada masyarakat dan bangsa; mampu menertibkan para laskarnya yang nakal dan menjadi perusahaan yang bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme; hingga akhirnya, mampu membawa Indonesia keluar dari krisis listrik dan mampu mencitrakan Indonesia di mata internasional sebagai negara yang terang dan indah.
Kepada masyarakat pembaca, krisis listrik tak sepenuhnya hanya merupakan tanggung jawab PLN saja, namun juga tanggung jawab kita bersama. Jangan pernah melakukan tindakan pencurian listrik. Hematlah pemakaian listrik di mana pun Anda berada. Sebab, menghemat listrik berarti menghemat energi dan biaya. Keluar dari krisis listrik, bersama kita bisa!

Medan, 14 Oktober 2012


Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 1:04 PM
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

No comments:

Post a Comment

Silakan centang "Notify me" agar Anda memeroleh pemberitahuan.

Entri Populer