Sunday, August 26, 2012

Nasionalisme di Ujung Sapu Lidi


Oleh: Liven R
     PAHLAWAN/jasamu sungguh besar/dengan tombak dan bambu runcing/kau korbankan jiwa dan ragamu/membebaskan kami dari penjajahan/mengangkat kami dari lembah kebodohan/akan kami teruskan cita-citamu/dengan giat belajar/berbakti kepada orangtua dan bangsa/terima kasih/pahlawan//
     Andika memandang puisi bertema kepahlawanan di depannya. Mulutnya tak henti berkomat-kamit menghafalnya. Tak jauh darinya, Retno, sang kakak, juga sedang  berkonsentrasi menyanyikan not-not lagu nasional dengan suara pelan.
     “Permisi!” Suara teriakan kuat disertai gedoran pintu menyentakkan mereka berdua. Andika dan Retno serta-merta terdiam dan saling memandang.
     Bu Rahmat tergopoh-gopoh keluar dari dapur. “Siapa?” bisiknya.
     Andika dan Retno mengangkat bahu.
     “Permisi! Ada orang?!” Kembali terdengar teriakan dari luar. Kali ini terdengar lebih keras lagi. Pintu kayu yang sudah tua terlihat bergetar digebuk berkali-kali dari luar. Bu Rahmat memandang iba ke arah pintu tuanya. Jangan sampai sendi engselnya copot, doanya dalam hati.
     Ini sudah tamu yang ketiga dalam sesorean ini. Aneh sekali! Entah mengapa seminggu menjelang HUT RI, pemuda-pemuda pengangguran dan pemabukan di kampung ini menjadi begitu rajin dan bersemangat mengunjungi rumah-rumah penduduk.
     Biasanya, jangankan melihat sosok mereka seutuhnya di bawah sinar matahari, batang hidungnya pun susah ditemukan. Hanya pada malam hari saja, sering terdengar suara petikan gitar dan nyanyian sumbang mereka disertai tawa cekikikan di pondok remang-remang tak jauh dari ladang penduduk.
     “Ada apa, ya, Nak Panji?”Akhirnya Bu Rahmat menyerah dan membukakan pintu.
     “Ibu Rahmat, dalam rangka menyambut HUT RI minggu depan, kami akan mengadakan serangkaian acara yang bertajuk Semangat Nasionalisme Kepemudaan di kampung kita ini. Mohon kesediaan Ibu berpartisipasi, ya?!” Panji, pemuda berambut gondrong dan berwajah karatan itu menyodorkan sebuah buku kepada Bu Rahmat.
     “Eh…, apa ini? Ibu tak tahu baca-tulis, Nak.” Bu Rahmat menolak dengan lembut buku itu. “Apa tadi? Ber…, berparit bersih, ya? Maksudmu Hari Merdeka nanti akan diadakan gotong-royong untuk membersihkan semua parit di kampung ini, ya?”
     Retno yang sejak tadi berdiri di samping ibunya memalingkan wajah menahan tawa. Bu Rahmat memandangnya dengan kening berkerut.
     “Bukan, Bu. Maksud saya, Hari Merdeka nanti kami akan mengadakan acara kesenian, lomba tarik tambang, lomba lari karung dan panjat pinang. Mohon Ibu mendukung dengan ikut serta ….”
     “Oh, Gusti! Ibu disuruh ikut panjat pinang? Oaalaaa, Nak Panji, Ibu mana kuat, toh?” potong Bu Rahmat cepat dengan wajah kagetnya.
     “Bukan. Bukan ikut panjat pinang, Bu….”
     “Lha, jadi?”
     Panji kembali menyodorkan bukunya. “Ini, Bu. Semua tetangga sudah ikut mendukung dengan memberi ini…” Panji memberi isyarat dengan menggesekkan jempol dengan jari telunjuknya. “… sukarela, Bu…!”
     Bu Rahmat manggut-manggut dengan mulut yang terbuka membentuk huruf O.
     “Jadi, gimana, Bu?” Panji tersenyum memamerkan deretan giginya yang membuktikan dia adalah salah satu pendukung berdirinya pabrik rokok di Indonesia.
     “Tapi tadi pagi Ibu sudah memberi untuk Nak Sadio dan Nak Mijar. Katanya untuk Hari Merdeka juga….”
     “Oh, tak sama, Bu. Itu untuk menghias panggung. Membeli bendera. Yang ini lain lagi, Bu….” Sambil berucap, Panji mengedarkan pandangannya ke dalam rumah Bu Rahmat. Hendak menyelidiki kekayaan Bu Rahmat barangkali.
     “Baa…baiklah.” Bu Rahmat berpaling. “Dika, ambilkan dompet Ibu, Nak!”
     Dari dompet hijau yang tak pernah gendut perutnya, Bu Rahmat mengeluarkan sehelai uang lima ribu rupiah dan menyodorkannya kepada Panji.
     “Yaaaa…, Ibu! Masa hanya segini? Mana cukup, Bu? Tambahlah sedikit lagi….”
     “Lho, katanya sukarela? Ibu hanya sanggup segini, Nak.”
     “Tapi….” Panji tak melanjutkan kata-katanya demi melihat Pak Rahmat pulang sambil menenteng peralatan kebersihannya dan sebuah sapu lidi panjang di pundaknya.
     “Baiklah. Permisi, Bu.” Akhirnya Panji berpamitan setelah memasukkan uang pemberian Bu Rahmat ke saku celananya.
***
     “BAGAIMANA persiapan untuk lomba membaca puisinya?” tanya Pak Rahmat sambil menjatuhkan pantatnya di kursi kayu ruang tamu mereka sehabis makan malam.
     “Sudah hafal, Pak. Semoga besok Dika bisa mendeklamasikannya dengan baik, ya, Pak.” Andika tersenyum.
     Pak Rahmat mengangguk dan mengelus kepala Andika, putra satu-satunya yang kini duduk di kelas 6 SD.
     “Doakan Dika, ya, Pak,” ujar Andika lagi.
     “Ya. Bapak pasti akan mendoakan kalian…,” jawab Pak Rahmat sambil memandang ke arah sebuah piala dan sebuah piagam yang digantung di dinding papan rumah mereka, di samping tempat sapu lidi besarnya bersandar.
     Teringat olehnya prestasi yang diraih putra dan putrinya saat mengikuti lomba menyanyi dan pembacaan puisi pada HUT RI di sekolah mereka setahun yang lalu.
     “Di mana kakakmu, Dika?”
     “Di kamar, Pak. Masih latihan untuk lomba menyanyi besok.”
     Sebentuk senyum mengembang di wajah Pak Rahmat. “Bapak sungguh bangga kepada kalian, Nak,” ucapnya.
     “Dika juga bangga kepada Bapak,” ucap Andika cepat.
     Pak Rahmat tertawa. “Apa yang bisa kamu banggakan dari seorang tukang sampah dan tukang sapu jalanan?”
     “Banyak! Aku bangga punya bapak seorang pekerja keras. Meski hidup kita susah, tapi Bapak tak pernah mengeluh ataupun meminta-minta. Lagipula, apa, sih, salahnya menjadi tukang sampah? Tanpa tukang sampah, semua orang tak bisa hidup bersih, sehat, dan nyaman, ‘kan? Bapak sungguh hebat!” Andika mengacungkan jempolnya kepada Pak Rahmat.
     “Kamu sungguh pandai menyenangkan hati orangtua!” Pak Rahmat mencubit lembut pipi putranya.
     “Semoga suatu hari nanti, Pak Presiden akan memberi Bapak piala juga…!” imbuh Andika lagi dengan mata membulat.
***
     17 AGUSTUS, acara Hari Kemerdekaan di alun-alun depan kantor Camat belum juga usai kendati jam sudah menunjukkan pukul 23.45 WIB.
     Suara musik yang berdebum dan nyanyian yang melengking terdengar hingga ke rumah Pak Rahmat. Setiap selesai satu lagu dangdut dinyanyikan, akan terdengar teriakan ‘MERDEKA!’ dan disambut oleh teriakan ‘MERDEKA!’ lainnya.
     Bu Rahmat duduk di ruang tamu sambil memandang piala dan piagam—satu-satunya barang terindah yang ada di rumah sederhana mereka—yang baru dimenangkan oleh Andika dan Retno tadi siang.
     “Bu, kok, belum tidur?” sapa Retno tiba-tiba.
     “Eh, iya. Begitu berisik bagaimana bisa tidur?”
     “Huh! Sama, Bu. Retno juga tak bisa tidur. Mereka sungguh keterlaluan, ya, Bu?! Masa merayakan Hari Kemerdekaan sampai mengganggu orang tidur?! Apa, sih, manfaatnya begitu? Besok, kan, kami harus sekolah lagi…,” sungut Retno dengan wajah masam.
     Bu Rahmat tersenyum simpul. “Yuk, kita pergi tidur,” ujarnya meredakan amarah putrinya. “Mungkin sebentar lagi acaranya juga selesai,” lanjutnya lagi dengan sabar.
***
     PAGI hari yang cerah.
     Andika dan Retno berangkat ke sekolah setelah menyalami Bapak dan Ibunya. Tak lama, Bu Rahmat pun berangkat seperti biasa untuk menunaikan tugasnya sebagai tukang cuci pakaian di rumah-rumah tetangganya.
     Setelah memastikan pintu rumahnya terkunci dengan baik, Pak Rahmat menenteng peralatan kebersihannya menuju ke kantor Camat untuk mengambil gerobak sampahnya yang terparkir dengan manis di sana setiap hari.
     “Oh, Gusti Allah…!” Pak Rahmat tercengang saat melewati alun-alun tempat diadakannya acara HUT RI semalaman kemarin. Bangku-bangku terlihat berantakan. Ada yang terbalik di tanah, dan sebagian lagi terbalik di atas meja. Sampah kaleng bir dan plastik bekas makanan berserakan di atas rerumputan seluas mata memandang.
     Setelah menarik nafas panjang, Pak Rahmat menggeleng dan berjalan mendekati sampah-sampah yang berserak itu. Satu-satu kaleng bekas dipungut dan sampah plastik disapunya dengan sapu lidi panjang yang ditentengnya dari rumah tadi. Tak jauh di sana seorang pemuda sedang tertidur menelungkup di atas meja.
     Pak Rahmat mendekatinya perlahan. Tersenyum saat mengenalinya.
     “Nak Sadio…! Nakkk…,” diguncangnya bahu pemuda itu pelan. “Sudah pagi, Nak,” panggilnya lagi.
     “Ugh!” Sadio mengangkat wajahnya yang merah dan terlihat berantakan. Memicingkan matanya menatap Pak Rahmat. “MERDEKAAA!” serunya mendadak.
     “CILAKAK! Eh, Merr…merdeka…!” Pak Rahmat latah dan terkaget hingga mundur selangkah.
     Sadio bangkit dengan limbung. Belum sempat melangkah, badannya kembali ambruk terduduk dan wajahnya kembali mencium permukaan meja. Entah berapa liter bir telah memenuhi lambungnya semalam.
     Gagal membangunkan Sadio, Pak Rahmat kembali kepada tugasnya menata kursi-meja yang berserakan, memungut dan menyapu setiap inci alun-alun tersebut hingga bersih.
     “Nak. Merdeka, Nak…! Kita sudah merdeka. Jangan mau dijajah kemalasan hingga menyebabkan kemiskinan dan keterbelakangan, Nak…,” bisik Pak Rahmat sambil memandang sekali lagi ke arah Sadio—yang masih terlihat mendengkur dan sesekali menghapus air liurnya—sebelum kemudian menarik gerobak sampahnya sekuat tenaga menuju ke tugas mulianya.
***
     Medan, awal Agustus 2012
     *E-mail: lie.liven@gmail.com
     *Blog: myartdimension.blogspot.com
(Diterbitkan Harian Analisa, Taman Remaja Pelajar, 26 Agustus 2012)
 Gambar: int

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 1:41 PM
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

No comments:

Post a Comment

Silakan centang "Notify me" agar Anda memeroleh pemberitahuan.

Entri Populer