Saturday, August 25, 2012

Awas, Facebook Merusak Hidupmu!


Oleh: Liven R

FACEBOOK. Siapa yang belum mengenal situs jejaring sosial satu ini? Diluncurkan pada 4 Februari 2004 oleh Mark Zuckerberg bersama teman-temannya sesama mahasiswa ilmu hukum: Eduardo Saverin, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes, awalnya hanya terbatas penggunaannya oleh mahasiswa Harvard saja. Seiring waktu, penggunaan facebook (FB)  mulai merambah ke universitas lainnya dan kemudian ke seluruh dunia hingga mencapai angka lebih dari 900 juta pengguna aktif pada Mei 2012 (sumber: Wikipedia).
Memiliki fitur-fitur yang memungkinkan untuk memasang foto profil, membuat catatan,  menuliskan hal apa saja yang diinginkan, mencari sahabat lama, berkenalan dengan teman baru, menulis pesan untuk seseorang, bergabung dengan suatu grup yang memiliki kesamaan minat, hingga menciptakan sebuah grup baru untuk suatu tujuan bisnis online, merupakan daya tarik yang menjadikan FB benar-benar sempurna untuk sebuah sosialisasi di dunia maya. Oleh alasan ini juga, tak heran jika statistik pengguna FB dari tahun ke tahun semakin meningkat.
Di Indonesia saja, pada April 2012 tercatat pengguna FB ada sebanyak 42.684.840 pengguna. Dengan angka ini, serta-merta mengukuhkan Indonesia sebagai negara peringkat ke-4 pengguna FB terbanyak di dunia setelah AS, India, dan Brazil.
Tak dapat dipungkiri, kehadiran FB telah membawa banyak manfaat dalam kehidupan manusia, mendekatkan ikatan silaturahmi antar sesama, dan juga meningkatkan pengetahuan kita dalam banyak hal; sebagai contoh nyata yang paling dekat, penulis pribadi beberapa kali berhasil mewawancarai serta menulis wacana dan profil tentang kehidupan orang-orang inspiratif Indonesia sebagai penyajian di media massa berkat perkenalan yang bermula dari FB.
Namun, meski memiliki segudang manfaat positif, tak terbantahkan segudang hal negatif yang timbul dari bermain FB pun berbanding lurus dengan manfaatnya.
Berikut adalah beberapa fakta dan hal yang perlu diketahui dan dihindari oleh facebooker agar tetap dapat bermain FB dengan sehat:
Kecanduan FB
Berapa kali dalam sehari Anda masuk ke dalam akun FB Anda? 20 – 30 kali? Hati-hati, Anda telah digerogoti candu FB!
Disadari atau tidak, ketika menatap layar FB, kita berfokus pada apa yang ada di dunia maya tersebut. Semakin sering menatap FB, perhatian untuk keluarga, pekerjaan, maupun orang-orang di sekitar akan menjadi semakin sedikit. Tak hanya itu, kecelakaan hingga kematian sangat mungkin terjadi akibat kecanduan bermain FB. Ya, seorang wanita Amerika telah kehilangan nyawa batitanya karena keasyikan bermain FB hingga tak menyadari sang buah hati telah berjalan ke jalan raya.
Sementara, seorang wanita lain mengaku batitanya terjatuh hingga giginya patah karena dia lalai menjaganya akibat sedang chatting dengan teman FB-nya. Dan, di lain waktu, seorang pramuwisma meng-update status: dimarahi majikan karena pekerjaan tak selesai akibat main FB.
Bercermin pada kejadian di atas, kita hendaknya dapat mengendalikan kuantitas waktu dalam bermain FB dan lebih memfokuskan diri pada keluarga dan pekerjaan. Kurangnya perhatian untuk keluarga tentunya dapat menyebabkan renggangnya keharmonisan keluarga. Sementara, kurangnya perhatian dan tanggung jawab pada pekerjaan, dapat menyebabkan rendahnya kualitas dan produktivitas karya, hingga menyebabkan kita dipecat dari pekerjaan.
Akun Jelmaan
Banyak di antara facebooker yang memiliki kebiasaan membuat akun dalam jumlah lebih dari satu dengan nama yang berbeda-beda. Tak masalah tentunya jika seseorang ingin memiliki akun lebih dari satu apabila akun pertamanya telah penuh (telah berisi 5.000 teman) atau hanya sekadar iseng tanpa merugikan orang lain dan disertai pengakuan. Namun, kita juga perlu mewaspadai keberadaan akun-akun jelmaan tersebut apabila telah menjurus pada tindakan negatif seperti penipuan.
Sebagai contoh, seorang penjual obat membuat akun di FB untuk menawarkan dagangannya. Dalam waktu bersamaan, dia juga membuat banyak akun-akun FB lainnya untuk ditambahkan sebagai teman pada akun  pertamanya. Ketika melakukan penawaran obat, akun-akun jelmaannya tersebut pun akan menyamar sebagai orang lain dan memberikan testimoni tentang betapa berkhasiatnya obat-obatan tersebut. Bagi sebagian facebooker yang tak menyadari adanya bentuk penipuan dengan modus demikian, tentu akan percaya bahwa banyak orang telah membuktikan khasiat obat tersebut dan memesannya.
Selain contoh di atas, akun-akun jelmaan juga banyak digunakan sebagian facebooker tak bertanggung jawab untuk mempromosikan kebaikan diri sendiri (dengan menyamar sebagai orang lain, dan biasanya dilakukan ketika seseorang sedang mengincar lawan jenisnya) ataupun untuk menghujat dan menyebarkan isu negatif serta menjatuhkan reputasi seseorang di FB.
Namun, apabila kita jeli, akan selalu ada celah untuk menyadari keberadaan akun-akun jelmaan tersebut beserta dalangnya. Untuk itu, facebooker wajib selektif dalam berteman di FB!
Status dan Komentar yang Tak Sehat
‘Derajat dan martabat manusia ditentukan oleh perilaku dan ucapannya. Bukan oleh harta, pendidikan tinggi, maupun status sosial kemasyarakatannya’, ungkapan ini tentunya tepat mengingat seorang yang tak berpendidikan tinggi dan tak pula kaya, akan tetap dihormati orang lain jika dia mampu menunjukkan sikap dan ucapan yang selalu terjaga dalam bingkai moralitas. Sebaliknya, seorang yang kaya, berpendidikan tinggi dan memiliki kedudukan dalam masyarakat, tetap dapat dikucilkan masyarakat apabila sikap dan ucapannya jauh dari kata sopan.
Di FB, mungkin Anda pernah membaca status ataupun komentar yang berbau seks. Risihkah Anda membacanya?
Tak dipungkiri, banyak orang yang suka (bahkan teramat menggemari) dan  menganggap hal-hal yang berbau seks sebagai lelucon yang menyenangkan. Candaan yang tak sehat justru dianggap sebagai nilai ‘telah dewasa/telah menikah’ sehingga ‘telah pantas’ diucapkan tanpa perlu malu-malu lagi. Ironisnya, hal-hal tersebut ditulis di wall FB-nya dan dapat dibaca oleh semua orang dari semua kalangan dan segala usia yang berkunjung.
Ketahuilah bahwa lelucon dan candaan yang berbau seks maupun tentang hubungan intim suami/istri sama sekali tidaklah lucu! Apabila candaan tersebut dilontarkan, sebagian orang mungkin akan senang dan segera memberi komentar serta bergabung dengan kelompok  tersebut, akan tetapi sebagian orang akan merasa risih dan memberi label ‘miskin moral’ untuk kelompok orang-orang tersebut.
Ukuran ‘telah dewasa’ tentunya berdasarkan kematangan diri dalam berperilaku, berpikir dan mengendalikan diri ke arah kebaikan, bukan berdasarkan ‘yel-yel’ namun justru menunjukkan prilaku menyimpang dari norma peradaban. Jadi, berhati-hatilah menulis sebuah status/berkomentar di FB jika kita tak ingin dinilai/dipandang ‘miskin moral’ oleh orang lain.
Perselingkuhan
‘Angka perceraian meningkat selama tahun 2012 di Indonesia. Faktor keretakan rumah tangga diduga kuat akibat perselingkuhan melalui jejaring sosial FB’ (Harian Online Republika). ‘Satu dari Tiga Perceraian Terjadi karena Facebook!’ (The Atjeh Post, Mei 2012).
Berita di atas menunjukkan salah satu fakta sisi negatif dari bermain FB.
Kecanggihan teknologi dan semakin modernnya zaman agaknya sedikit banyak telah mengikis nilai moralitas diri manusia dewasa ini. Jika di zaman dahulu, seorang yang ketahuan berselingkuh akan mendapatkan hujatan, cibiran, dikucilkan, diarak berkeliling kampung dan bahkan dirajam hingga mati, maka di zaman sekarang perselingkuhan justru diproklamirkan dengan gamblang di status FB setiap hari, dan juga tanpa malu membicarakan perselingkuhan tersebut melalui komentar seolah hal tersebut bukanlah sesuatu yang tabu.
Ironis dan memprihatinkan, bukan? Sudah demikian parahkah nilai moralitas, pengembangan/pengendalian diri masyarakat kita saat ini?
Perampokan
Sebagian facebooker memiliki kebiasaan meng-update status yang memberitakan kegiatan dan keberadaan dirinya. Bahkan, ada yang suka memasang foto yang memperlihatkan barang-barang mewah, seperti cincin berlian, mobil BMW, dan juga emas batangan miliknya.
Sedapat mungkin, hindarilah memberitakan keberadaan diri, kekayaan yang dimiliki, maupun kondisi rumah yang kosong di FB, sebab kita tak pernah tahu kapan kita sedang menjadi incaran para perampok yang menyamar sebagai teman di FB kita.
Kemajuan teknologi adalah berita yang menggembirakan umat manusia. Namun, kecanggihan teknologi juga dapat menjadi bumerang yang menghancurkan kehidupan kita apabila tidak dicermati dan dipergunakan dengan baik.
Seiring laju perkembangannya, kita diharapkan mampu menjadi tuan dari teknologi, dalam arti mampu mengendalikan dan memanfaatkan teknologi untuk kebaikan, dan bukan diperbudak oleh teknologi hingga membuang waktu sia-sia untuk hal-hal yang melenakan, semu, tak bermanfaat, serta merugikan diri sendiri dan orang lain.
Semoga kita semua dapat ber-FB secara bijak, sehat, dan terkendali!***
Penulis adalah pemerhati masalah sosial budaya

 Harian Analisa, Rubrik Opini, 24 Agustus 2012


 
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 6:33 PM
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

No comments:

Post a Comment

Silakan centang "Notify me" agar Anda memeroleh pemberitahuan.

Entri Populer