Monday, July 2, 2012

Wangsit Sang Paranormal


Oleh: Liven R


BUKU yang berisi simbol-simbol gambar itu telah dibaliknya berulang kali. Terlihat gambar seorang wanita dengan latar gerhana bulan. Pada halaman lain, ada gambar seorang pria memegang bunga mawar yang telah layu, dan tangan pria tersebut meneteskan darah akibat tusukan duri pada tangkai mawar tersebut.

“Tidak baik! Tidak cocok!” ucap wanita tua itu berulang kali diikuti gelengannya.

Aku, mama, dan nenek saling memandang.

“Gadis ini bintang sial. Auranya redup. Tanggal lahir kalian tak cocok, bahkan bertentangan! Jika dipaksakan bersama, akan ada kemalangan bertubi-tubi!”

***

“AKU sangat mencintai Lucy, Ma. Dia gadis yang baik...,” melasku untuk kesekian kalinya.

“Bukan cinta yang paling utama! Yang penting tanggal, bulan, tahun, dan jam lahir kalian harus cocok. Jika tidak, Mama tak bisa membayangkan betapa mengerikan akibatnya kalau kalian memaksa untuk bersama. Apa kamu belum mengerti apa yang kemarin dikatakan Bi Gunawi?”

“Selama berpacaran dengan Lucy, tak ada kejadian buruk apa pun yang menimpa kami. Bi Gunawi boleh meramal, kita tak perlu memercayainya, Ma...”

“Jangan membandel, Roy,” kali ini nenek angkat bicara. “...dulu Tante Anne juga sepertimu, tak percaya ramalan. Akhirnya apa? Baru setahun menikah, Om Junaedi meninggal karena kecelakaan, dan Tante Anne menjadi janda. Kalau saja dulu tantemu itu mau mendengarkan nasehat Bi Gunawi dan menikah dengan pria lain, tentu rumah tangganya tak akan begitu mengenaskan...,” ucap nenek lagi panjang lebar.

Sejak dulu, keluarga besar kami, terutama mama dan nenek, memang sangat memercayai hal-hal yang berbau ramalan. Pindah rumah, pernikahan, buka usaha baru, hingga pemberian nama bayi, semua dikonsultasikan kepada Bi Gunawi, cenayang yang berusia kira-kira enam puluh tahun itu. Selama ini, aku tak peduli dengan semua sikap fanatik mama dan nenek terhadap ramalan-ramalan Bi Gunawi. Tapi sekarang?

Kali ini giliran hubunganku dengan Lucy yang dikonsultasikan. Awalnya, aku mau ikut mama dan nenek mengunjungi Bi Gunawi karena berharap Bi Gunawi akan mengatakan hal baik tentang hubunganku dengan Lucy. Tak kusangka Bi Gunawi justru meramalkan hal sebaliknya.

“Tinggalkan Lucy sebelum hubungan kalian lebih jauh lagi. Jika nanti kamu mengenal seorang gadis lain, jangan lupa minta tanggal dan jam lahirnya, biar dilihat Bi Gunawi dulu sebelum melanjutkan hubungan,” ujar mama lagi.

Segampang itu mama mengeluarkan perintah. Tak tahukah mama ini menyangkut perasaan? Alasan apa yang harus kukatakan kepada Lucy untuk mengakhiri hubungan kami?

***

“JIKA kali ini Bi Gunawi juga meramalkan tak cocok, biar aku membujang saja seumur hidup!” ucapku menyindir.

Sudah dua tahun aku berpisah dengan Lucy. Semenjak itu juga aku sudah mencoba menjalin hubungan dengan empat orang gadis lainnya. Semua hubunganku tersebut kandas di tangan Bi Gunawi—kalau tak mau dikatakan kandas di tangan mama dan nenek.

Kali ini, mama dan nenek akan kembali mengunjungi Bi Gunawi untuk mengonsultasikan hubunganku dengan Imelda, gadis yang lebih tua tiga tahun dariku.

Perkenalanku dengan Imelda terjadi dikarenakan Imelda adalah anak dari teman baik mama. Karena hubungan kedua orangtua kami sudah bagaikan saudara, mama pun berniat meningkatkannya lagi menjadi hubungan besan dengan memintaku mendekati Imelda. Selain mengagumi wajah Imelda yang cantik, sesungguhnya aku tak begitu menyukai dia.

Sejujurnya, aku ragu untuk kembali menjalin hubungan dengan gadis mana pun. Sebab, yang selalu terjadi kemudian adalah aku harus mengarang berbagai alasan untuk memutuskan hubungan kami dan menyakiti gadis pilihanku setelah Bi Gunawi menggelengkan kepala.

“Yang akan menjalani rumah tanggaku adalah aku, bukan Bi Gunawi! Biarkan aku memilih dan menilai sendiri gadis yang akan menjadi istriku, Ma,” ujarku suatu ketika dalam aksi protesku. Namun, bukan mamaku kalau tak menerapkan ramalan Bi Gunawi dalam segala hal.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya aku bisa melihat anggukan Bi Gunawi.

“Bagus... Bagus...! Sangat cocok! Kalian akan bahagia jika bersama. Selain semua tanggal lahir cocok, istri yang lebih tua akan membawa hoki bagi kalian. Harta kalian akan semakin meningkat. Dan, usaha akan maju pesat jika keluarga kalian mempunyai menantu seperti ini,” ucap Bi Gunawi.

Mama dan nenek terlihat berseri-seri. Aku tak tahu harus gembira atau bersedih. Bukankah sesungguhnya Imelda bukan pilihanku?

“Kalau begitu, cobalah Bibi carikan tanggal yang cocok untuk pernikahan mereka,” ucap nenek.

“Hah?!” Aku sungguh tercengang demi mendengar kalimat terakhir nenek.

“Iya... Iya... Coba dicarikan,” imbuh mama lagi sambil menyenggol tanganku mengisyaratkan agar aku tak membantah.

Segera Bi Gunawi membolak-balik buku tebal di hadapannya dan sibuk menghitung sambil berkomat-kamit.

***

“KALIAN sungguh keterlaluan! Tak bisakah kalian mendengarkan pendapatku sebelum memutuskan urusanku?” Keluar dari kediaman Bi Gunawi, aku tak dapat lagi menahan emosiku.

“Kami lakukan semua ini untuk kebaikanmu, Roy. Apa kamu pikir Mama dan nenek akan mencelakakanmu?”

“Tapi, Ma, aku sama sekali tak ada perasaan apa pun terhadap Imelda. Bagaimana bisa menikahi dia tanpa cinta?”

“Cinta bisa tumbuh belakangan. Asalkan kamu mau, kamu bisa belajar mencintai dia mulai dari sekarang...”

“Jika aku tak mau?” tantangku dengan emosi yang belum sedikit pun mereda.

“Jika kamu tak mau, maka kamu akan membujang selamanya. Bukankah itu katamu tadi?” Nenek menjawab dengan senyumnya. “Apa kekurangan Imelda? Cantik dan baik. Kamu seharusnya gembira,” ujar nenek lagi.

Huh! Aku seharusnya gembira? Siapa yang bisa mengajariku bagaimana caranya? Pedal gas segera kuinjak kuat tatkala teringat satu setengah tahun lagi aku akan menjadi pengantin pria ‘paling bahagia’ sedunia.

***

“ROY, cepat mandi! Antarkan aku ke sauna nanti!” Suara lengking Imelda mengagetkanku. Kulirik jam dinding, pukul 17.40. Rasanya tubuhku lelah sekali setelah seharian menjaga toko tadi.

“Rooyyy...!” Terdengar kembali teriakan Imelda dari dalam kamar.

Kumatikan televisi dan bangkit dengan malas menuju ke kamar.

“Harus berapa kali aku memanggilmu, hah? Seperti anak kecil saja!” Imelda memandangku dari pantulan cermin riasnya.

Aku tak perlu menjawab agar tak terjadi pertengkaran lagi seperti kemarin. Semenjak menikah dengan Imelda tiga tahun lalu, kehidupanku memang sudah bagaikan di neraka. Mungkin karena usiaku yang lebih muda darinya, Imelda tak pernah menghormatiku layaknya seorang suami. Itulah yang kurasakan selama ini.

“Oh ya, jangan lupa sediakan uang satu setengah juta rupiah. Aku akan mendaftar klub fitness dengan Ivonna,” ucap Imelda sambil mengoleskan lipstik ke bibirnya.

“Bukankah kemarin baru kuberi dua juta? Sudah habis?”

“Tentu saja! Apa kamu kira dua juta itu sangat besar? Hanya untuk makan-makan dan shopping saja sudah habis, tuh...!”

Setelah menghela nafas, aku segera meraih handuk dan masuk ke kamar mandi. Uang, uang, dan uang! Tak adakah hal lain yang diributkan Imelda selain uang?

Jika hendak ditotal, setiap bulannya aku harus mengeluarkan lebih dari sepuluh juta rupiah hanya untuk biaya Imelda mengikuti program fitness, yoga, renang, perawatan wajah, tubuh, kuku hingga biaya masuk-keluar butik dan arisannya.

Rasanya semenjak menikah dengannya, aku belum melihat kekayaan keluarga kami meningkat seperti yang diramalkan Bi Gunawi. Semuanya biasa-biasa saja. Yang ada, aku harus bekerja dua kali lebih keras agar dapat memenuhi semua kebutuhannya itu. Yang lebih parah, seluruh kedaulatanku rasanya telah dijajah Imelda. Jika supir tak masuk, akulah penggantinya. Jika aku menolak karena sibuk, pastilah di antara kami akan terjadi perang dingin.

***

“JANGAN membuatku marah, Roy! Aku sudah berjanji kepada teman-temanku besok akan menyerahkan uang panjar lima juta rupiah itu. Jika aku tak menyerahkan uang itu, teman-temanku akan mengira aku tak
sanggup jalan-jalan ke Australia. Mukaku harus ditaruh di mana, hah?!” Pintu ruang tamu dibanting keras.

Aku mengikuti Imelda dari belakang sehabis menjemputnya dari sauna.

“Kenyataannya saat ini aku memang tak sanggup memberimu, Mel. Jika begini terus, usaha kita bisa bangkrut. Toko kita akan tutup. Zaman sudah susah begini, kita seharusnya bisa lebih berhemat.” Aku berusaha memberi pengertian kepada Imelda.

“Aku tak mau tahu! Itu urusanmu! Jika toko kita sampai tutup, itu karena kamu tak berguna. Apa pun, besok pagi uang lima juta itu sudah harus ada di tanganku, titik!” Selesai berucap, Imelda segera masuk ke kamar dan membanting pintu sekeras-kerasnya.

Sesaat, mama dan nenek keluar dari kamar mereka dan memandang iba kepadaku.

“Ada yang salah... Pasti ada yang salah hingga kalian berdua terus bertengkar setiap hari,” ucap mama pelan.

“Besok, Mama akan menanyakan kepada Bi Gunawi bagaimana supaya kalian berdua bisa rukun...,” lanjut
mama lagi.

Ah, ternyata mama belum juga sadar meski aku telah menjadi korban selama ini. Bi Gunawi... Bi Gunawi..., mungkinkah besok kamu akan memberitahu mama hari yang baik dan cocok untuk perceraianku dengan Imelda?

Kuhempaskan tubuhku yang lelah ke atas sofa dan kupejamkan mataku. Mendadak bayangan Lucy muncul di depan mataku. Ya, aku memang selalu teringat pada Lucy, cinta pertamaku, setiap kali bertengkar dengan Imelda.

***

Medan, medio Juni 2011
*E-mail: lie.liven@gmail.com
*blog: myartdimension.blogspot.com
(Harian Analisa, Minggu, 27 Mei 2012)
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 1:55 PM
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

No comments:

Post a Comment

Silakan centang "Notify me" agar Anda memeroleh pemberitahuan.

Entri Populer