Monday, February 27, 2012

Jangan Tergesa-gesa Menerbitkan Buku


Oleh: Lea Willsen
Andai seorang penyanyi bercita-cita menyelenggarakan konser, dan seorang dokter bercita-cita membuka klinik, maka tak heran, ketika seorang penulis juga bercita-cita menerbitkan buku. Namun, tentu menerbitkan buku bukan sebuah proses yang mudah, bahkan sama sekali tak boleh tergesa-gesa bila tak ingin 'terkapar'.
Sehari sebelum artikel ini ditulis, sebulan sebelum artikel ini ditulis, bahkan sudah berkali-kali, penulis mendengar curhat atau ungkapan-ungkapan yang didasari sebuah harapan besar untuk menerbitkan buku, dari teman-teman yang juga sejalan; mereka yang tertarik pada dunia sastra.
Pada dasarnya, rata-rata proses kreativitas seorang penulis ada tingkatan-tingkatannya, dimulai dari membaca, mengamati, belajar, mencoba, mengirimkan karya-karya ke media cetak, terus berlatih, kemudian membangun image di mata pembaca, agar langkah demi langkah ke depan terasa lebih mulus. Tak ada satu pun keberhasilan yang tanpa didasari usaha, lantas tercapai secara instan.
Tergesa-gesa untuk menerbitkan buku, bisa diibaratkan hendak menggunakan pedang tanpa pegangan, atau menyusun puzzle seribu keping dalam lima menit. Itu sulit, kendati bukan berarti mustahil, bila yang bersangkutan memang luar biasa!
Tema yang diangkat oleh penulis pada kesempatan kali ini adalah fakta, bukan sekadar sok tahu ataupun sok menggurui. Seorang penulis wajib memahami sistem kerja dan proses untuk menerbitkan buku terlebih dulu, sebelum tergesa-gesa ‘menyerang’ penerbit.
Sistem Kerja Penerbit
Penerbit adalah sebuah perusahaan yang tak semata bergerak untuk mendukung kegiatan serta kreativitas dunia sastra secara cuma-cuma. Di balik segala lelah dan modal yang ditanamkan, tentu juga bertujuan mendatangkan keuntungan berupa materi. Diterima atau tidaknya sebuah naskah, tentu utamanya dinilai dari apakah akan mendatangkan untung kepada penerbit atau tidak. Dalam hal ini, seorang penulis wajib memaksimalkan kemampuan untuk menghasilkan karya yang benar-benar mutlak memiliki selling point. Tak ada yang namanya cukup mengandalkan editor, sementara penulis tinggal menuliskan apa yang hendak ditulis tanpa diolah menjadi indah terlebih dulu.
Di sisi lain, kerjasama antara penerbit dan penulis terikat dengan peraturan-peraturan pada SPP (Surat Perjanjian Penerbitan) yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
Untuk buku yang diterbitkan, seorang penulis berhak memeroleh keuntungan, baik berupa sistem jual lepas dengan harga yang telah ditentukan, ataupun royalti 10%, 15%, atau 20% dari harga jual buku. Masing-masing penerbit menerapkan sistem pembayaran royalti yang berbeda. Umumnya royalti dibayar enam bulan sekali berdasarkan data penjualan. Namun beberapa penerbit akan membayar uang muka sebesar 25% dari total pendapatan royalti jumlah buku yang dicetak begitu buku terbit.
Misalkan buku dicetak 5,000 jilid, harga jual buku 20,000 rupiah dengan royalti 10% (2,000 rupiah per jilid), maka begitu buku terbit penerbit pun menganggap buku telah terjual habis dan memberi penulis 25% dari total royalti 5,000 jilid buku (25% total royalti = 2,5 juta rupiah). Bila pada periode pembayaran berikutnya ternyata hasil penjualan belum mencapai 25% dari jumlah buku yang dicetak, maka untuk sementara penulis tidak memeroleh royalti dan harus menunggu periode pembayaran berikutnya.
Dengan total pemasukan kotor senilai 100 juta rupiah dari 5,000 jilid buku yang dijual seharga 20,000 rupiah, maksimal penulis dapat memeroleh keuntungan 10 juta rupiah. Tentu itu cukup adil, mengingat segala bentuk biaya cetak dan distribusi sepenuhnya dibebankan kepada penerbit. Untuk satu judul saja, penerbit harus menanamkan modal puluhan juta rupiah (tergantung jumlah cetakan).
Self Publisher
Selain mengandalkan modal penerbit, masih ada opsi lain yang memungkinkan penulis bersangkutan untuk menerbitkan buku dengan mengandalkan modal pribadi. Biasanya penerbit demikian disebut penerbit indie, atau yang kini lebih dikenal self publisher.
Menerbitkan buku secara indie tentu bukan lagi hal baru. Untuk penulis yang berminat, silakan menyediakan modal puluhan juta rupiah (tergantung jumlah cetak), selebihnya masalah edit, layout, desain, cetak, terbit, distribusi, segalanya dikerjakan oleh penerbit. Namun ini metode lama, meskipun hingga kini masih banyak penerbit yang setia menerapkan sistem kerja sama demikian.
Untuk sistem menerbitkan buku secara indie yang lebih baru serta populer, seorang penulis cukup membayar biaya antara 350 ribu rupiah hingga 500 ribu rupiah, buku sudah dapat diterbitkan secara POD (print on demand—dicetak bila ada permintaan) yang biasanya dijual secara online.
Mungkin hal tersebut bisa diartikan sebagai 'angin segar'. Ketika biasanya naskah sering hanya bolak-balik ditolak dan berujung tersimpan rapi di dalam laci, kini untuk menerbitkannya menjadi buku ber-ISBN (international standard book number—penomoran buku standar internasional) sudah semudah membalikkan telapak tangan.
Akan tetapi, sebelum memutuskan untuk menerbitkan buku secara POD, seorang penulis harus mempertimbangkan segalanya secara matang. Buku hanya dijual secara online, dalam arti tidak semua peminat paham cara membeli barang secara online. Di sisi lain, ongkos kirim dari satu kota ke kota lain juga cukup memberatkan. Secara otomatis, besar kemungkinan angka penjualan buku online tak akan sanggup menyaingi angka penjualan buku yang dipajang pada toko buku.
Apabila naskah berupa novel tebal yang proses pembuatannya cukup menguras tenaga, sebaiknya tidak diterbitkan secara POD, karena keuntungan dari royalti yang diperoleh tak akan sebanding dengan pengeluaran biaya terbit. Kecuali bila naskah berupa kumpulan puisi, cerita pendek, atau cerita bersambung yang sudah pernah diterbitkan oleh media cetak. Atau, penulis bersangkutan sekadar ingin mewujudkan cita-cita menerbitkan buku, tanpa memperhitungkan untung rugi.
Proses Pengiriman Naskah
Tahap berikutnya adalah memahami proses pengiriman naskah yang tentunya juga tak kalah penting. Mengirimkan naskah kepada penerbit, ibarat menitipkan anak kepada orang lain. Untuk itu, pastikanlah penerbit bersangkutan adalah penerbit yang dapat dipercaya.
Cari tahu sistem kerja penerbit bersangkutan atau tanyakanlah secara langsung kepada penerbit tersebut. Apabila masih tetap merasa ragu, tanyakanlah kepada penulis lain yang sudah pernah bekerja sama dengan penerbit tersebut, apakah penerbit tersebut dapat dipercaya atau tidak.
Beberapa penerbit mewajibkan naskah dikirim dalam bentuk hardcopy (via pos). Namun, ada juga beberapa penerbit yang mewajibkan naskah dikirim dalam bentuk softcopy (via email). Untuk itu, tanyakanlah secara langsung kepada penerbit bersangkutan.
Bila naskah telah dikirim, tanyakanlah proses penilaian membutuhkan waktu berapa lama. Biasanya antara setengah bulan hingga setengah tahun, tergantung jumlah naskah yang diterima oleh penerbit tersebut. Apabila hasil belum keluar setelah melewati batas waktu yang dijanjikan, tanyakanlah kembali kepada penerbit tersebut, sudah sejauh mana proses penilaian berlangsung.
Berhati-hatilah kepada beberapa self publisher—tak perlu ‘tunjuk hidung’—yang tidak bersikap jujur dalam memberikan rincian biaya. Semisal ISBN yang telah digratiskan sejak Januari 2011, tetapi terhadap penulis masih dipungut biaya. Berdasarkan pendapat seorang teman yang juga bergerak di bidang penerbitan indie, banyak penerbit indie yang melipatgandakan biaya terbit. Untuk itu, seorang penulis harus selalu mengikuti perkembangan.
Penutup
Menaruh harapan untuk dapat menerbitkan buku, juga harus memiliki persiapan mental jika naskah ditolak. “Harry Potter and the Philosopher’s Stone” karya JK Rowling, mengalami 14 kali penolakan. “A Wrinkle in Time” karya Madeleine L’ Engle, mengalami 29 kali penolakan. “A Time to Kill” karya John Grisham, mengalami 45 kali penolakan. Ketiga nama penulis yang disebutkan di atas adalah penulis-penulis yang telah dikenal dunia. Sobat, siap menerima tantangan?! Segalanya berpulang kepada diri sendiri!
***
Awal Januari, 2012
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 1:58 PM
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

No comments:

Post a Comment

Silakan centang "Notify me" agar Anda memeroleh pemberitahuan.

Entri Populer