Sunday, January 22, 2012

Imlek Tanpa Kertas Sembahyang

Imlek Tanpa Kertas Sembahyang

Oleh: Lea Willsen


TANGGAL 23 Januari, warga Tionghoa kembali merayakan Tahun Baru Imlek. Waktu serasa berlari cepat. Aku merasa baru saja melewati Tahun Baru Imlek, ternyata kembali lagi hari besar tersebut di depan mata. Hmm, apa saja pencapaianku selama setahun ini? Aku sendiri tak tahu jawabannya. Bukan tidak banyak yang telah kulakukan, tetapi yang kulakukan setiap hari adalah kegiatan yang sama—pagi mengantar anak ke sekolah, membuka toko dibantu oleh isteri, berjualan hingga siang, menjemput anak, berjualan lagi hingga petang, menutup toko, menemani keluarga hingga malam, kemudian beristirahat untuk kembali beraktivitas esok hari—maka tak ada yang spesial.

Katakanlah, dari segi materi—kendati pintu toko terbuka lebar dilewati puluhan pembeli setiap harinya—tetapi 80 persen pendapatan juga digunakan untuk kebutuhan ekonomi keluarga, modal kelangsungan usaha, dan juga biaya-biaya pengobatan Papa.

Ah, ya, bercerita tentang Papa, orang tua itu sudah tiga tahun sakit tak kunjung sembuh. Hari itu, sehari sebelum Imlek tiga tahun lalu, sesuai tradisi setiap tahun, kami anak cucu semua berkumpul di rumah orangtua untuk merayakan kebersamaan dengan acara makan malam bersama. Pukul 9 malam, acara kumpul-kumpul belum selesai, Papa tiba-tiba tak enak badan. Tubuhnya lemas, dan kepalanya pun sulit diangkat. Kami sekeluarga amat panik dan bergegas melarikannya ke rumah sakit. Dokter memvonis Papa terserang stroke!

Sejak hari itu, Papa tak pernah sembuh secara total. Kendati masa-masa kritis berhasil dilalui, namun ada satu masa Papa kehilangan kepercayaan diri karena kondisi lumpuh yang dideritanya, terus mengurung diri di dalam kamar tanpa bersedia bertemu siapa pun kecuali Mama dan anak cucunya, kemudian ujung-ujungnya Papa menjadi pikun dan menderita sejenis penyakit yang diderita lansia pada umumnya. Dokter juga hanya sanggup memberikan berbagai vitamin dan suplemen, tanpa cara menyembuhkannya.

Kini, bersama Mama beliau pindah dan tinggal bersamaku. Setiap hari yang dapat dilakukan olehnya hanya duduk di sebelah jendela lantai dua dengan ditemani oleh Mama. Aku yakin, itu adalah kegiatan yang amat membosankan. Kami masih selalu berharap suatu hari nanti Papa akan kembali sembuh. Tetapi rasanya kecil harapan.

Bila tahu demikian, semestinya malam tiga tahun lalu kami para anak melarang Papa untuk mengkonsumsi terlalu banyak daging-daging yang keras dan berminyak. Sebelumnya kesehatan Papa juga tidak terlalu baik, beliau harus menjaga makan. Tetapi pada malam itu, kami kurang memerhatikan hal itu. Papa mengkonsumsi terlalu banyak makanan yang tak semestinya boleh ia konsumsi. Dan karena itu jugalah, malam itu Papa terserang stroke.

Kami paling memahami kebiasaan Papa. Hari-hari biasanya Papa hidup secara berhemat. Tetapi Imlek adalah hari penting baginya untuk menunjukkan rasa syukur kepada Tuhan atas berkah yang diperolehnya selama setahun. Satu ekor babi panggang, lima ekor bebek isi, dua ekor opor ayam, beserta berbagai macam lauk-pauk dan kue lainnya adalah menu wajib untuk disembahyangkan kepada Tuhan, dewa, dan leluhur sehari sebelum Imlek. Menu itu jugalah yang kemudian menjadi santapan keluarga besar kami pada malam harinya. Masih kelebihan memang, biasanya akan bersisa hingga dua hari mendatang.

Kadang aku merasa semua itu terlalu mubazir. Bukan hanya Papa, Mama juga sering demikian berlebihan untuk merayakan sebuah Tahun Baru Imlek. Empat bulan menjelang Imlek, tangan Mama biasanya akan terlihat sibuk melipat kertas sembahyang yang akan dikumpulkan untuk kemudian dipersembahkan kepada Tuhan pada hari H nanti dengan cara dibakar. Tidak tanggung-tanggung, total kertas sembahyang yang dikumpulkan biasanya bertumpuk-tumpuk tinggi seolah menyaingi tinggi badan seorang manusia dewasa! Begitu dibakar di depan rumah, asap membubung tinggi, terbawa angin hingga ke mana-mana; di badan jalan, di dalam rumah, bahkan di dalam kamar! Belum lagi tetangga-tetangga juga masing-masing membakar setumpuk besar kertas sembahyang itu. Udara pun menjadi panas menyengat, dengan gumpalan-gumpalan asap hitam yang menyesakkan nafas.

Ketika semasa kecil ditanyakan kepada Mama mengapa harus demikian, Mama akan menjawab, semua itu adalah kewajiban untuk berterima kasih kepada Tuhan. Semakin banyak yang dapat dipersembahkan kepada Tuhan semakin baik. Tuhan akan memberkati manusia yang tahu bersyukur kepada-Nya. Aku mengangguk. Saat itu kuyakin setiap yang dikatakan Mama adalah benar adanya. Mama memiliki alasan untuk melakukan semua itu. Dan semua itu pasti adalah hal positif.

Ya, bersyukur kepada Tuhan, hingga kini pun aku tetap merasa itu adalah satu hal positif yang wajib dilakukan. Tetapi, tentunya dengan cara dan prinsip yang berbeda. Aku tidak ingin melakukan pembakaran bertumpuk-tumpuk kertas sembahyang. Bumi ciptaan Tuhan hanya satu! Kala orang lain tengah melakukan kegiatan penghijauan untuk mencegah terjadinya pemanasan global, rasanya aku terlalu kejam bila masih melakukan aksi pencemaran udara yang merusak Bumi. Selain itu, aku juga tak berani membayangkan, berapa pohon yang telah ditebang untuk memproduksi kertas sembahyang. Bila suatu hari nanti Bumi benar-benar tak lagi layak dihuni oleh manusia, akankah membakar kertas sembahyang masih dikatakan sebagai suatu kegiatan positif?

Membakar kertas sembahyang adalah tradisi lama kebanyakan warga Tionghoa. Bila tradisi tersebut berdampak buruk pada kehidupan manusia di masa mendatang, rasanya tak ada salahnya juga bila dihindari, atau setidaknya dikurangi. Masih banyak cara lain untuk bersyukur kepada Tuhan, selain membakar kertas sembahyang.

“A Hok!” panggil isteriku tiba-tiba. Kuperhatikan ia sedang bersiap-siap pergi ke pasar. Di sisinya ada Joshua kecil, putra semata-wayang kami. “Aku mau ke pasar membeli keperluan sembahyang. Kau serius tahun ini tak mau membakar kertas sembahyang?”

Aku tersenyum. “Kertas sembahyang juga tidak murah. Lebih baik kita menggunakan uang itu untuk berdana ke panti derma. Itu juga salah satu ungkapan syukur kepada Tuhan, ‘kan?”

“Mama bisa marah atau pantang?”

“Sejak Papa sakit, Mama sibuk menjaganya dan tak lagi mengurus hal demikian. Bukan tak menghargai mereka, tetapi apa yang kita lakukan adalah demi kebaikan bersama. Tak ada pantangan yang perlu ditakutkan. Kita juga harus turut melestarikan Bumi. Hidup adalah meminjam Bumi, bukan memiliki. Di masa mendatang, akan ada generasi baru yang menghuni Bumi ini. Dan kita harus memikirkan nasib mereka.”

“Papa!” panggil Joshua. “Belikan Jojo kembang api ya?!”

“Sedari kemarin Jojo terus meminta dibelikan kembang api...”

“Jangan...,” tolakku halus. “Kembang api juga berdampak buruk bagi kelangsungan Bumi. Di sisi lain, juga berbahaya. Setiap perayaan hari besar selalu saja kembang api memakan korban. Tahun-tahun sebelumnya anak orang lain yang menjadi korban. Tahun ini kita tak tahu anak siapa lagi yang akan menjadi korban. Setiap anak yang bermain kembang api berisiko menjadi korban berikutnya...”

Aku mengusap kepala Joshua. “Nanti Papa belikan es krim saja ya, Nak?!”

Joshua tersenyum, kemudian mengangguk setuju.

***

Awal Januari, 2012

Ilustrasi: int
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 3:52 PM
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

No comments:

Post a Comment

Silakan centang "Notify me" agar Anda memeroleh pemberitahuan.

Entri Populer