Tuesday, December 13, 2011

Remaja Semestinya Bermoral


Oleh: Lea W
Masa remaja merupakan masa transisi suatu ketika seorang anak mulai beranjak dewasa. Sepintas dari segi fisik, tentu sudah terlihat tumbuh sempurna, tinggi dan besar. Namun, bila ditinjau dari segi mental, sesungguhnya terkadang remaja masih harus banyak belajar mengenai kehidupan, sosial ataupun kemanusiaan. Tak ada kata coba-coba dalam pencarian jati diri, sekali terjerumus, sulit untuk berkembang menjadi masyarakat yang berkualitas.
Tentu rasanya gembira, ketika orangtua mulai memberi kita kebebasan dalam mengambil keputusan, mungkin juga uang jajan tambahan, dan bahkan sebuah motor atau mobil untuk bebas bepergian ke mana pun. Hal itu tentu tak masalah, sekiranya orangtua mampu. Sayangnya, karena kurangnya kesadaran dari kita sendiri, ataupun bimbingan dari orangtua yang seimbang dengan fasilitas-fasilitas itu, karakter yang terbentuk dalam diri terkadang malah menjadi rusak, dan menyalahgunakan fasilitas-fasilitas itu untuk bersikap arogan dalam interaksi sehari-hari antar sesama manusia. Itulah yang biasa kita sebut: lepas kontrol.
Perumpamaan sederhana, kebebasan dalam mengambil keputusan itu membuat remaja menjadi sesuka hati menjalin pergaulan pada lingkungan yang tak sehat, uang jajan tambahan dipergunakan untuk pergi dugem atau mengkonsumsi obat-obat terlarang, dan motor atau mobil yang digunakan untuk ugal-ugalan di jalanan, tanpa mempertimbangkan keselamatan diri sendiri ataupun para pengguna jalan lainnya.
Potret Remaja Tak Bermoral
Sore itu—sekitar pukul lima—langit masih cukup terang. Mama penulis memasuki sebuah gang di mana rumah nenek berada. Terlihat sebuah mobil Avanza hitam terparkir di depan rumah nenek. Katakanlah sebagai anak pemilik rumah—yang memang sehari-hari keluar masuk gang itu—tentu tak heran tempat itu memang telah menjadi tempat paling strategis untuk memarkirkan mobil Mama tanpa harus ‘diusir-usir’ pemilik tempat lain.
Oleh informasi warga sekitar, Mama mengetahui mobil itu adalah mobil milik tamu salah seorang tetangga dengan pagar warna biru. Semula Mama meminta digeserkan tempat secara baik-baik. Pemuda itu—si pemilik mobil—keluar dengan bergandengan tangan dengan si putri pemilik rumah. Seakan hendak menunjukkan sikap ‘kelelakiannya’ kepada perempuan di sebelah, si pemuda berkaca mata mendongakkan kepala dan bertanya “ada apa?”, dengan nada arogan tentunya.
Permintaan menggeser mobil sudah cukup jelas, Mama tak merasa perlu menanggapi sikap tak santun yang diperlihatkan si pemuda yang masih kekecilan untuk dilahirkan menjadi anaknya. Mama hanya berjalan kembali ke mobil. Sebelum sempat masuk, mobil si ‘pembalap F1’ tiba-tiba telah melaju kencang ke arah Mama. Sisi kanan Avanza hitam itu menjepit dan menekan rapat tubuh Mama pada mobil Mama, padahal di sisi kiri masih memiliki ruang gerak yang lebar. Tentu saja saat itu Mama refleks berteriak sangat keras, memberi isyarat dengan memukul mobil itu—masih dengan tubuh yang terjepit—agar si pengemudi menghentikan ‘kegilaannya’. Namun bukannya berhenti, mobil itu justru terus maju dan pergi begitu saja seolah tak terjadi apa-apa.
Mama masih dilindungi-Nya, sehingga tidak menderita luka apapun selain sedikit rasa sakit dan emosi. Warga di sekitar terkejut dan bertanya-tanya, Mama menceritakan kronologinya dengan suara emosi yang kemudian memancing perempuan empat puluh tahunan (si calon mertua) keluar dari pagar birunya. Kedatangannya bukan untuk menenangkan keadaan, tetapi justru mati-matian membela si pemuda ber-Avanza hitam. Dengan suara yang tak kalah tak sopan, si calon mertua juga coba membalikkan fakta dan meminta Mama tak perlu berteriak-teriak hanya untuk meminta digeserkan tempat, padahal masalah bukan itu, tetapi ada yang hampir menjepit mati seseorang!
Menyadari adanya keributan, sepasang kekasih itu kembali. Masih dengan sikap ‘kelelakiannya’, pemuda itu kelihatannya bukan kembali untuk mengakui kesalahannya. Bila berhak, mungkin ia masih ingin membela diri dan mendesak Mama dengan sikap arogannya. Namun syukur, keadilan selalu berpihak pada kebenaran, warga setempat mendesak si  ‘pembalap F1’ untuk mengakui kesalahannya.
Bukan itu saja, dari kesaksian seorang bapak, ternyata pemuda itu beberapa hari lalu juga telah hampir menabrak anaknya. Bila si bapak tidak segera memeluk dan menggendong pergi anaknya, tak berani dibayangkan apa yang akan terjadi.
Pemuda itu hanya memberi penjelasan bahwa ia tak sengaja ingin menjepit Mama. Bagi penulis, disengaja ataupun tidak, itulah salah satu potret ketidak-stabilan emosi remaja. Sedari bergandengan tangan keluar dari rumah, si pemuda telah menunjukkan sikap menantangnya, padahal diminta secara baik-baik.
Apa pun alasannya, mengemudi harus selalu berhati-hati. Tempo hari hampir menabrak seorang anak, hari ini menjepit tubuh orang yang terlalu tua untuk menjadi ibunya, esok hari akan ada ‘atraksi’ apa lagi? Bagaimana bila suatu hari nanti terjadi sesuatu yang merugikan diri sendiri? Masih adakah semangat muda untuk ugal-ugalan?
Berlaku Positif
Sobat muda, alangkah mulia dan menyenangkan, suatu ketika kita dapat memanfaatkan semangat muda kita untuk berlaku positif, semisal aktif dalam kegiatan bakti sosial, donor darah, mengunjungi panti derma, ataupun sekadar memerlihatkan kesantunan serta senyum kepada orang-orang di sekitar. Sikap arogan hanya akan mempersulit diri di mana pun kaki melangkah. Sama sekali tak ada nilai unggul bagi seseorang yang bersikap demikian.
Remaja adalah masa depan bangsa, dan juga harapan bagi orangtua dan keluarga. Remaja semestinya bermoral, karena jalan masih panjang. Semoga...
*akhir Oktober, 2011
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 1:13 PM
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

No comments:

Post a Comment

Silakan centang "Notify me" agar Anda memeroleh pemberitahuan.

Entri Populer