Sunday, December 25, 2011

Malam Natal 12 Tahun Silam

Malam Natal 12 Tahun Silam
Oleh: Lea W
"APA acaramu Natal nanti?"
Alisku mengernyit, membaca sebaris teks pendek yang muncul di layar ponsel. Acaraku? Pertanyaan itu membuatku bingung beberapa detik. Sebagai seorang ateis berusia tiga puluh tahunan yang masih belum berkeluarga dan hidup jauh dari orangtua serta saudara, tentu aku hanya memeroleh sedikit santai di libur Natal, tanpa ada acara ataupun kegiatan bermain salju di luar rumah, seperti apa yang biasanya dapat dilakukan warga Jepang yang beberapa di antaranya juga ateis. Ini negara tropis, malam jelang tanggal 25 nanti aku pun tetap perlu menyalakan AC untuk tidur.
Tiba-tiba ponselku telah bergetar dalam genggaman. Farhat, rekan kerjaku ini memang tak memiliki kesabaran yang baik.
"Ya?!"
"Kau menerima SMS-ku?"
"Iya, aku sedang mengetik balasan untukmu," bohongku, "kau benar-benar tak sabar...," kemudian tersenyum sinis.
“Lalu?”
“Ada apa? Seharusnya kau tahu, ‘kan? Bagiku Natal tak lebih dari kalender merah, karena aku bukan seorang Kristiani... Paling-paling aku dapat sedikit bersantai di rumah. Dan itu pun mungkin harus kulakukan sambil membuka tablet memeriksa data-data pekerjaan kantor...”
“Jangan berkata seperti itu... Fisikmu terbentuk dari daging, bukan besi... Bagaimana kalau kau bersamaku? Ya, kita merayakan malam Natal bersama, tentunya di gereja...”
Aku terdiam sesaat. Ini bukan pertama kalinya aku diajak ke gereja. Malam Natal dua belas tahun silam aku juga diajak seseorang untuk ke gereja. Aku memboncenginya ke sana, tapi pulangnya kami...
“Hei...!” panggil Farhat sedikit kesal. Konsentrasiku kembali dari masa lalu.
“Ya?” jawabku cepat.
“Kau mau?”
“Aku...” Farhat pasti sadar, nadaku seperti seorang anak kecil yang sedang mencari-cari alasan untuk menolak tidur siang.
“Aku bukan mengajakmu ke suatu tempat yang menjerumuskan. Sekadar mengajakmu untuk pergi merasakan kebahagiaan bersama, mengapa tidak? Gereja senantiasa menyambut orang-orang yang bertujuan memeroleh kebahagiaan di sana. Kalaupun kau seorang non Kristiani, setidaknya kau akan memeroleh kesan dan pengalaman menyenangkan di...”
“Oh, ya, ya... Aku tak meragukan niat baikmu... Baiklah, baiklah, aku terima...,” potongku cepat. Mungkin Farhat mengira aku meragukan niat baiknya. Aku tak boleh membiarkannya memberi penjelasan lebih dari penjelasan panjang lebar yang baru ia berikan, kalau tak mau dianggap sebagai orang yang tak tahu menghargai sahabat.
“Aku menjemputmu...”
“Tak perlu... Aku sendiri ke sana. Kau cukup memberitahuku waktu dan lokasinya. Ya? Sebentar...” Segera kutarik sebuah pulpen, dan menuliskan janjiku di petak tanggal 24 kalender bulanan yang tergantung di dinding sebelah kiri meja kerja di kamarku.
*
MALAM tanggal 24, pukul 18.20 aku telah tiba di gereja yang dimaksud oleh Farhat. Tengah mencari tempat untuk memarkirkan mobil, dari spion kuperhatikan Farhat yang tadinya berdiri menunggu di ambang pintu gereja—tepat di sebelah patung Santa setinggi dua meter—kini telah mendapati kedatanganku dan berlari-lari kecil ke arahku. Aku sengaja tiba 40 menit sebelum acara dimulai agar tak ada yang perlu panik atau kesal menungguku, namun tetap saja aku ditunggu oleh pria yang tak sabaran ini.
“Kau tepat waktu,” ujar Farhat begitu kuturun dari mobil. Wajahnya berseri-seri. Dari belakangnya, kudapati isteri dan kedua anaknya juga menyusul datang. Wajah mereka juga berseri-seri. Tentu saja pikirku, malam ini adalah malam istimewa bagi umat Kristiani di seluruh dunia. Mereka akan merayakan kelahiran Sang Penyelamat.
Senyum, inilah ekspresi yang wajib kupasang agar dapat turut berbaur merayakan Natal. Setidaknya, aku telah memutuskan datang, dan aku juga harus dapat merasakan perdamaian pada malam ini. Aku sadar, luka dua belas tahun silam masih belum sembuh total. Tetapi, setidaknya aku harus tetap menjadi makhluk sosial yang sanggup mengendalikan batin dan emosi di depan umum. Aku tak mungkin menunjukkan ekspresi frustrasi pada malam ini, kalaupun malam dua belas tahun silam aku kehilangan seseorang. Aku mungkin terperangkap dalam masa lalu, namun biarlah cukup aku sendiri yang tahu.
*
“AH, ya... Masih ada waktu...,” ujar Farhat jelang acara dimulai, “Kau mau membantu kami?” tanyanya seraya menatap ke arahku. Ia menyodorkan sebuah kamera digital kepadaku, kemudian menunjuk patung Santa yang berada di ambang pintu tadi. “Tolong ambil foto kami sekeluarga bersama Santa itu...”
“Tak masalah...”
Aku mengambil posisi dari dalam, menghadap ke luar gereja, jarak sekitar empat setengah meter dari Farhat sekeluarga yang telah bersiap bergaya di sebelah Santa. Tentu aku bukan seorang fotografer profesional, namun sebisa mungkin aku harus menjepret dengan baik.
“Tiga..., dua..., satu...!” Ciklek! Flashlight menyambar sesaat.
Seraya berjalan menghampiri Farhat, aku coba memeriksa hasil jepretanku dengan kepala yang sedikit menunduk. Ah! Bukankah ini... Aku dikejutkan sesosok perempuan yang kebetulan tertangkap oleh kamera! Ia berada di luar gereja, sedang keluar dari sebuah taksi! Lekas aku mengangkatkan kepala mencoba mencari sosok itu. Sudah hilang...
“Christiana... Tak mungkin... Aku yakin itu dia...,” gumamku tanpa sadar.
“Ada apa?” Farhat bertanya penuh kecurigaan.
Aku menghela nafas. Seharusnya ketika membidik tadi aku harus segera menyadarinya. Tidak, andaikan malam ini adalah satu-satunya kesempatan untukku, berarti tak boleh kulewatkan begitu saja! Dengan langkah yang berat aku berjalan melewati Farhat begitu saja—pundak kami sempat bertubrukan—dan keluar dari gereja. Seraya berjalan buru-buru, kepalaku celingak-celinguk seperti seorang bapak yang tengah kehilangan anak di keramaian.
Farhat memanggilku. Panggilannya berhasil menyetop langkahku yang masih belum jauh darinya. “Kau mau ke mana?” Ia menghampiriku. “Acara akan segera dimulai... Kau seperti orang yang sedang kebingungan.”
Alisku mengernyit, demikian juga alis Farhat. Benar saja, tingkahku barusan mungkin akan membuat sahabatku tersinggung. Belum tentu perempuan itu Christiana, kendati ia sungguh mirip. Aku sungguh egois. Mengapa sama sekali tak terpikirkan olehku? Bahkan aku baru sadar, kamera digital Farhat pun masih berada di genggamanku, dan mereka sekeluarga belum sempat melihat hasil fotonya.
Ah, sudah semestinya aku bersabar hingga acara selesai. Bukan tak mungkin Farhat akan memaklumiku, bila kukatakan baru saja aku melihat Christiana di luar sana. Namun bila itu yang kulakukan, berarti aku telah sukses menghancurkan acara Natal Farhat sekeluarga. Pria itu pasti akan meninggalkan anak isterinya, dan membantuku mengejar bayangan Christiana yang padahal selama ini hanya pernah ia kenal dari cerita-ceritaku.
*
UMAT Kristiani yang memadati seisi gereja tengah berdoa dengan khusyuknya. Kedua tangan mereka dikepalkan di depan dada. Wajah mereka memancarkan ekspresi kebahagiaan yang damai. Seorang ibu-ibu yang berdiri di dekat pohon Natal yang berhiaskan bola-bola warna-warni menghapus airmata, namun tetap tersenyum damai. Mungkin itu adalah sebentuk ucap syukur akan keagungan Sang Juru Penyelamat—Yesus Kristus—yang telah mendatangkan perdamaian untuk dunia.
Aku tak begitu percaya, malam itu seorang ateis juga terdorong untuk turut mengepalkan kedua tangan di depan dada dan berdoa dalam hati; Pertemukanlah kembali aku dan dia... Perempuan yang bernama Christiana masih tak tergantikan oleh siapa pun di dalam hatiku, Tuhan Yesus... Amin...
Acara dilanjutkan dengan pertunjukan vokal yang bertemakan kelahiran Yesus Kristus...
*
DARI jarak lima belas meter, kuperhatikan sesosok perempuan pincang yang tengah berjalan ligat dibantu oleh sepasang kruk yang dikapit di ketiak. Parasnya cantik, tetapi rambutnya yang terayun-ayun mengikuti gerak langkahnya yang pincang seolah memburamkan semua itu.
Farhat menghampiriku.
“Lihatlah perempuan itu...,” kataku tanpa mengalihkan pandangan.
“Aku tahu. Namanya Larita. Ia adalah perempuan yang setiap Minggu selalu datang ke sini untuk mengikuti kebaktian. Dulu dia berasal dari kota ini, namun berpindah ke luar negeri untuk waktu yang cukup lama, dan terakhir ia kembali lagi, baru kemudian berkenalan dengan kami di sini.”
Aku mengangguk pelan. “Aku tahu, aku sangat mengenalinya...” Mataku basah. “Nama lengkapnya adalah Larita Christiana. Dialah perempuan yang pernah kuceritakan kepadamu... Perempuan yang mengalami kecelakaan di malam Natal dua belas tahun silam. Sungguh tak habis pikir, hari ini aku akan kembali bertemu dengannya di gereja ini.”
Farhat sedikit terkejut dengan apa yang baru kukatakan. “Maksudmu... perempuan yang dulunya kuliah bersamamu itu? Me...mengapa kau tak mengejarnya?”
“Aku tak pernah ingin berhenti mengejarnya. Tapi aku kehilangan bayangannya. Orangtuanya memutuskan untuk membawanya berobat ke luar negeri. Dan ia tak pernah kembali lagi sejak saat itu. Mungkin juga itu adalah sebuah strategi agar putri mereka tak lagi menaruh harapan mencintai seorang pria yang sama sekali tak mengalami luka berarti dalam insiden tersebut. Mereka meragukanku. Mereka berpikir aku pasti akan mencampakkan putri mereka setelah insiden itu.
“Keadaannya jauh lebih parah saat itu, bila dibandingkan dengan sekarang. Ia dibawa pergi dalam keadaan koma... Tak banyak anak muda di masa itu yang memiliki ponsel pribadi untuk tetap menjaga hubungan dengan orang-orang terkasih. Selama dua belas tahun ini aku sempat berpikir, mungkin ia tak lagi berada di dunia ini...”
Farhat menepuk punggungku. “Berhentilah mengorek kenangan lama. Hampirilah dia... Kini kau memiliki harapan baru.”
Aku bersyukur. Benar, harapan dari-Nya. Inilah pertama kalinya aku kembali menyebut-Nya, setelah dua belas tahun menjalani hidup bagaikan kapal yang kehilangan arah...
*
kamarrenung, 2011
gambar: Analisa
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 5:07 PM
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

No comments:

Post a Comment

Silakan centang "Notify me" agar Anda memeroleh pemberitahuan.

Entri Populer