Friday, October 8, 2010

Eksotisme Budaya Tanah Air: Bercermin pada Suku Dayak

Sekilas Wajah di Balik Kebudayaan Suku Dayak

Indonesia adalah bangsa yang kaya dengan khazanah budaya daerah. Setiap budaya yang disumbangkan oleh masing-masing suku membawa arti tersendiri dalam tatanan budaya nasional. Oleh karena itu, sudah seharusnya seluruh lapisan masyarakat, pemerintah maupun swasta menyadari hal tersebut dengan turut menjaga keasrian dan keaslian kebudayaan daerah.

Salah satu budaya yang mengambil bagian penting dalam jagad keunikan Indonesia adalah budaya suku Dayak. Betapa tidak, suku asli Kalimantan ini menyimpan misteri dan keeksotisan tersendiri saat diselami. Sayang, budaya yang dulu melekat kental pada mereka kini mulai sirna seiring dengan globalisasi dan modernisasi.

Beberapa teori telah mencuat berkenaan dengan sejarah suku Dayak. Sebuah teori menyebutkan bahwa suku Dayak berasal dari Yunnan, Cina Selatan dan bermigrasi pada zaman glasial. Dari sastra lisan, diketahui bahwa mereka pernah mendirikan kerajaan Nansarunai Usak Jawa sebelum akhirnya hancur oleh kerajaan Majapahit.

Dulunya suku Dayak tidak berdiam di hutan, melainkan tinggal di tepi pantai. Pendatang-pendatang dari luar Kalimantan membuat mereka terdesak ke pedalaman. Tidak terlalu banyak sejarah suku Dayak yang bisa dikuak mengingat mereka tidak meninggalkan bukti-bukti otentik berupa literatur atau sejenisnya, bahkan diduga tidak mengenal tulisan. Keterangan hanya didapat dari penuturan lisan.

Suku Dayak tidaklah sesederhana yang dikira. Di setiap segmen kehidupan mereka, tersimpan keunikan-keunikan, mulai dari aspek sosial, perilaku, keorganisasian, kesenian, ekonomi, sampai religi.

Namun, pernah pada suatu masa suku Dayak malu mengakui jati diri mereka sendiri karena label primitif yang selalu melekat. Mereka tidak mau dianggap kuno, buas, bodoh, dan miskin. Untuk alasan itulah mereka lebih nyaman mengaku bukan sebagai suku Dayak. Sungguh ironis! Akibat hal tersebut, kebudayaan mereka pun terbengkalai dan tidak terawat. Padahal tidak ada yang akan menjaga kebudayaan turun temurun mereka selain mereka sendiri. Tidak ada yang akan (baca: berhak untuk merasa) bangga pada suatu kebudayaan selain pemilik asli kebudayaan yang bersangkutan. Untunglah, aktivis-aktivis Dayakologi tanggap dan cepat mengembalikan paradigma positif. Sekarang semua berlangsung dengan lebih baik, meski sebagian besar kebudayaan telah meluntur karena pergolakan zaman.

Salah satunya kebudayaan telinga panjang khas suku Dayak. Ini merupakan salah satu seni menghias diri, di samping tato dan gigi emas. Tradisi ini hampir tidak bisa ditemukan, bahkan memang sudah tidak berlaku pada generasi muda suku Dayak. Hanya beberapa orang tua saja yang terlihat masih memiliki telinga panjang. Telinga panjang dinilai memalukan. Bahkan, sebagian besar orang tua yang memiliki telinga panjang memilih untuk memotong ujung daun telinga, setidaknya untuk dua alasan yaitu agar tidak dianggap kolot dan tidak memalukan anak atau cucu mereka.

Padahal, dahulu suku Dayak Kayan mengaitkan telinga panjang dengan strata sosial, hanya kaum bangsawan saja yang memiliki telinga panjang. Sementara suku Dayak lain ada yang menyimbolkan telinga panjang sebagai pembeda antara perempuan budak dengan perempuan bangsawan, ada pula yang mengkonotasikan pembentukan telinga panjang sebagai salah satu cara melatih kesabaran dan merasakan penderitaan.

Memang tidak selamanya kita harus mempertahankan tradisi mengingat zaman yang semakin bergulir menuntut kita untuk fleksibel dan dinamis. Tidak ada yang bisa menyalahkan keengganan muda-mudi Dayak untuk mempertahankan tradisi telinga panjang. Mereka pasti tidak ingin dijadikan pusat perhatian dan dianggap aneh oleh orang-orang di setiap tempat yang mereka datangi. Ditambah lagi, generasi muda Dayak pasti sudah tersentuh dengan pendidikan sehingga mengerti mana yang lazim dan tidak.

Namun, sangat disayangkan jika kita harus merasa malu dengan tradisi yang ada, setidaknya kita masih tetap menghargai tradisi yang merupakan warisan sejarah. Suku leher panjang di Thailand bisa menjadi contoh. Mereka tetap menghargai, bahkan meneruskan dan merasa bangga dengan tradisi itu tanpa harus terbebani. Keberadaan suku ini telah menambah devisa negara Thailand di sektor pariwisata karena banyak wisatawan yang penasaran dengan keberadaan mereka. Sepertinya hal ini juga tidak lepas dari peran serta pemerintah Thailand. Sementara, pemerintah Indonesia tampak terlalu sibuk dengan korupsi dan politik luar negri sehingga kehilangan waktu untuk mengurus masalah kebudayaan. Padahal, daerah Borneo pun bisa dijadikan daerah tujuan wisata alam dan budaya yang menggiurkan jika digarap lebih baik.

Di samping itu, tidak seharusnya masyarakat memberi cemoohan menyudutkan terhadap suatu tradisi atau kebudayaan yang eksentrik. Justru ciri khas seperti itulah yang menjadi daya tarik. Bayangkan saja, seni tato khas suku Dayak sangat digemari oleh kawula muda dewasa ini. Seni gigi emas juga pernah menjadi tren di kalangan masyarakat tertentu beberapa tahun silam. Bukan tidak mungkin jika pada suatu saat seni memanjangkan telinga dengan manik-manik atau pemberat juga bisa meroket dan disenangi. Atau paling tidak bisa mendatangkan decak kagum dari orang-orang yang melihat telinga panjang suku Dayak. Sungguh disayangkan jika harus terkubur bersama rasa malu!

Pihak luar negeri juga sangat tertarik dengan kebudayaan suku Dayak. Tentu saja kita tidak ingin kasus lagu Rasa Sayange terulang kembali dan menimpa kebudayaan Dayak. Kalau itu terjadi, maka bukan suku Dayak saja yang merasa dirugikan melainkan seluruh bangsa Indonesia. Oleh karenanya, mengapa tidak mencegah hal tersebut dengan lebih memekatkan dan melekatkan kebudayaan? Saat ini, episode yang terlihat justru pelunturan kebudayaan yang dulu sangat sarat seiring dengan merambahnya masa. Tradisi dan keunikan budaya hanya bisa ditemukan pada orang lanjut usia dan sebagian kecil pemuda. Kalau begitu, bisa jadi dalam beberapa dekade ke depan tradisi serta keunikan tersebut hanya tinggal catatan dalam literatur dan arsip di museum. Ditambah lagi, peninggalan besar kebudayaan Dayak berupa sastra lisan yang jika tidak dilanjutkan secara estafet maka akan berangsur-angsur punah.

Pelestarian kebudayaan daerah memang harus dilakukan secara holistik, memerlukan partisipasi dan penerimaan dari seluruh elemen masyarakat, dukungan pemerintah dan yang terutama kecintaan terhadap kebudayaan tersebut dari kelompok yang memiliki (dalam hal ini suku Dayak).

Mencontoh dari Suku Dayak

Saat ini suku Dayak juga sedang menghadapi berbagai masalah yang cukup merisaukan. Sebut saja hutan mereka yang disulap menjadi areal perkebunan, proyek-proyek pembangunan, atau hilang akibat ilegal logging. Hal tersebut membawa perubahan ekologi, tradisi, ekonomi, sampai budaya suku Dayak.

Selain sebagai paru-paru dunia, hutan juga adalah tempat suku Dayak menggantungkan kehidupan dan tradisi. Berbagai bahan upacara, bahan makanan, bahan kerajinan, bahkan bahan sandang tradisional diperoleh dari hutan. Mereka sendiri sangat arif dan bijak dalam memanfaatkan hutan. Hutan yang dijadikan ladang tidak lebih dari dua hektar per keluarga. Selepas panen, ladang tersebut pun akan kembali dijadikan hutan.

Suku Dayak memiliki beberapa hasil olah intelektual yang lain dari yang lain, mulai dari kesenian, bahasa, hingga kebiasaan hidup. Beberapa dari kebudayaan mereka pantas dijadikan teladan.

Merupakan kesalahan besar jika mengecap suku Dayak sebagai suku yang kejam dan tidak berperasaan karena pernah diisukan dengan ritual potong kepala guna menolak bala. Sebaliknya, suku ini adalah suku yang beradab dan mengerti benar makna persaudaraan serta kebersamaan. Sebagai bukti, tradisi suku Dayak adalah tinggal di rumah besar yang disebut Betang atau Lamin atau rumah Panjang. Rumah ini bisa menampung hingga ratusan orang dan setiap orang yang tinggal di rumah tersebut adalah saudara. Saat satu orang tertimpa masalah, seisi rumah akan turut prihatin. Saat salah satu penghuni rumah meninggal, seluruhnya akan berkabung selama satu minggu dengan tidak menikmati kemewahan duniawi. Sayangnya, keberadaan rumah Betang juga semakin terbatas. Ditambah lagi, pemerintah sendiri melarang suku Dayak untuk tinggal di rumah Betang dengan alasan tidak memenuhi standard kesehatan.

Masyarakat Dayak sangat menggantungkan kehidupan pada pertanian, terutama padi. Pertanian atau perladangan ini pun bisa dibilang masih alami karena jarang menggunakan pupuk sintetis atau pestisida. Sebagai pupuk hanya digunakan abu dari pembakaran dedaunan atau sampah organik hutan. Dengan demikian, ekosistem pun tidak terganggu sebab kita ketahui bahwa pupuk dan terutama pestisida mengandung zat kimia (misalnya DDT) yang mencemari tanah dan air. Kebiasaan bertani seperti ini seharusnya ditiru oleh pertanian modern dan sangat disayangkan jika masyarakat Dayak yang harus mengimitasi pertanian modern.

Meski tanpa bahan-bahan sintetis, pertanian tetap menjadi napas suku Dayak. Bahkan, mereka bisa menghasilkan berbagai jenis padi yang berkualitas dengan berbagai macam sifat tanpa hibridisasi laboratorium. Mereka sudah mengenal padi yang tahan hama, tahan kering, tahan serangga, dan lain sebagainya.

Implementasi Kebudayaan Dayak Terhadap Kesehatan

Judul ini muncul sebagai wujud kecintaan dan keprihatianan terhadap kebudayaan Dayak. Didasari pula dengan pertimbangan bahwa kesehatan adalah harta manusia yang paling berharga. Setiap propaganda yang menyangkut improvisasi kesehatan akan mengundang perhatian dan tilikan dari masyarakat. Misalnya, terapi air seni yang disinyalir dapat menyembuhkan beberapa penyakit. Meski menjijikan, terapi alternatif tersebut tetap digemari oleh sejumlah kalangan.

Seperti itu pulalah kebudayaan Dayak akan dijelmakan dalam tulisan ini, yaitu menghubungkan kebudayaan tersebut―dalam hal ini makanan dan nyanyian―terhadap kesehatan. Bahwa beberapa segemen budaya Dayak ternyata membawa manfaat positif terhadap kesehatan. Buktinya, meski bersahabatkan alam, tidak mengkonsumsi suplemen yang dijual bebas di apotik, tingkat kesehatan dan angka harapan hidup mereka lumayan tinggi. Sedikit banyak hal tersebut juga mendapat pengaruh dari pola serta gaya hidup masyarakatnya.

Olahan ikan adalah sumber protein utama bagi suku Dayak di samping binatang buruan. Hal ini juga dikarenakan wilayah Kalimantan yang dibelah oleh banyak sungai. Umumnya ikan-ikan akan dikeringkan sebelum dikonsumsi. Pengeringan ikan yang dilakukan secara tradisional akan meningkatkan kadar protein serta menurunkan kadar air. Intinya, ikan kering mengandung protein yang lebih tinggi daripada ikan segar.

Di samping itu, ikan mengandung lemak tidak jenuh omega 3 yang berfungsi mencegah penyakit degeneratif, lemak EPA untuk mencegah ateroskelrosis dan DHA untuk pembentukan sel otak. Kandungan lemak dalam ikan tidak mudah teroksidasi di dalam tubuh sehingga mengecilkan kemungkinan terbentuknya plak makrofag foam cell yang bisa menyumbat pembuluh darah.

Untuk membakar makanan seperti daging, suku Dayak kerap melakukannya di atas kayu bakar. Meski tertempel abu, cara seperti ini lebih aman daripada membakar/memanggang di atas bara api yang berlapiskan besi. Sisa pembakaran dari besi atau logam lain merupakan zat karsinogenik yang dapat memicu protoonkogen menjadi onkogen serta menghambat kerja tumor supressor gen. Lebih jauh lagi, kanker adalah dampaknya. Namun, suku Dayak dapat menikmati makanan yang dibakar/dipanggang tanpa harus takut dengan zat karsinogenik dari sisa pembakaran besi.

Biasanya makanan yang kita beli dibungkus dengan kertas, plastik, daun pisang, kotak styrofoam, maupun kotak karton. Namun, suku Dayak membungkus makanan, terutama nasi lembek dan kue saga dengan daun njuk (Maranta arundinacea), daun dalui (Halopegia blumei), daun pedek (Macaranga triloba), dan daun lain yang diperoleh secara alami dari hutan. Selain menyumbang aroma tersendiri, tentu saja ini lebih alami daripada bahan sintetis yang senantiasa kita pakai.

Contohnya plastik yang merupakan polimer. Plastik (Polyethylene terephthalate atau PET) akan terurai menjadi monomer-monomer (DEHA) jika terkena panas dari makanan. DEHA bersifat karsinogenik dan tidak bersahabat dengan tubuh. Sementara kertas telah terdeteksi mengandung timbal. Timbal akan semakin mudah meresap dalam makanan jika makanan tersebut berlemak dan panas. Dampaknya adalah pallor (pucat), sakit, dan kelumpuhan (paralisis). Sedangkan residu styrofoam dapat mengakibatkan gangguan sistem endokrin dan reproduksi.

Selanjutnya, berdasarkan telaah pustaka lain yang dilakukan, musik terbukti dapat memberikan efek positif bagi tubuh. Di sini fokus dilakukan terhadap pemaksimalan fungsi otak guna membantu proses pembelajaran. Setelah mencoba menyesuaikan, ternyata beberapa lagu khas Dayak memenuhi kriteria musik yang membantu kinerja otak.

Ada beberapa lagu tadisional Dayak yang memiliki tempo lambat, yaitu 60-80 ketukan. Pada tempo ini musik dapat mempersiapkan otak untuk memulai kegiatan belajar. Sesungguhnya pembelajaran tidaklah sesederhana yang dibayangkan karena penerimaan informasi melibatkan sejumlah besar sel otak dalam beberapa tahap. Dimulai dari encoding (proses memasukan informasi ke dalam memori), rentensi (penyimpanan merupakan proses penyimpanan memori ke dalam otak) serta recalling (pemanggilan kembali memori saat dibutuhkan). Musik, termasuk sederet lagu tradisional Dayak akan memaksimalkan sel neuron guna memasuki ketiga tahap tersebut. Di samping itu, juga menuntun kita kepada dunia pencitraan pikiran yang akan menurunkan stres, mengoptimalkan kemampuan diri, meningkatkan daya ingat, merangsang kreativitas dan imajinasi, mengembangkan intelegensi, membuat lebih santai, segar dan tenang.

Sejauh ini hipotesis saya menyatakan bahwa musik-musik Dayak bertempo lambat itulah yang membuat sebagian mereka terhindar dari kerusakan sel otak. Padahal, suku Dayak gemar minum arak atau tuak yang mereka fermentasikan dari singkong maupun beras. Sementara, arak yang mengandung alkohol dapat mengganggu neurotransmitter di dalam susunan saraf. Dalam kasus ini, musik memperbaiki koneksi-koneksi antarneuron, termasuk pula mempotensiasikan neurotransimiter.

Artinya, bukan hanya musik klasik saja yang bisa membawa manfaat. Musik klasik terkenal karena promosi. Lalu, mengapa kita tidak mencoba mempromosikan lagu tradisional Dayak dengan didahului dengan berbagai riset dan observasi yang mendukung? Jika tidak menembus internasional, paling tidak bisa bersinar di gawang kita sendiri.

Berikutnya, saya akan mengambil contoh tari Perang yang merupakan tarian khas Dayak. Tarian yang menceritakan tentang pahlawan Dayak Kenyah dalam berperang melawan musuh ini memiliki gerakan yang sangat lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan si penari. Gerakan tarian ini juga bisa dicontoh dalam rangka memperbaiki kondisi kesehatan.

Tarian Perang membutuhkan koordinasi gerakan yang sangat baik. Oleh karena itu, tarian ini dapat digunakan untuk mengasah kemampuan cerebellum, termasuk area 4 pada otak dan beberapa traktus yang berhubungan dengan fungsi motorik.

Di samping itu, pekikan-pekikan yang keluar selama menari dapat meningkatkan kadar endomorfin yang membuat kita lebih santai dan rileks. Dalam sebuah jurnal kedokteran, disebutkan bahwa emosi yang dilepas baik dalam bentuk tangisan maupun teriakan adalah lebih baik daripada emosi yang ditahan. Dengan memainkan tari Perang, kita bisa membuka belenggu emosi dengan jeritan-jeritan. Keadaan ini juga menyebabkan terkontrolnya kadar hormon katekolamin maupun kortisol (biasanya disekresi lebih banyak saat stres). Sebagai catatan, hormon tersebut berkerja untuk menaikkan tekanan serta kadar gula darah.

Selain menarik dan menantang, paduan gerakan dalam tari Perang juga dapat mengoksidasi lebih banyak lemak abdominal, yang mana lemak ini berpotensi menimbulkan berbagai penyakit degeneratif, mulai dari diabetes melitus sampai jantung koroner.

Untuk kaum hawa, alternatif tarian yang dapat dicoba adalah tari Gong yang menggambarkan kelembutan seorang gadis bak padi yang meliuk tertiup angin. Tarian ini dibawakan di atas sebuah gong. Oleh karena itu, sudah pasti akan menantang area labirin untuk menjaga keseimbangan. Tarian ini juga cocok sebagai media relaksasi guna mengembalikan tubuh ke keadaan yang lebih segar dan tenang.

Intinya, banyak hikmah yang bisa dipetik dari kebudayaan alami suku Dayak. Oleh karena itu, tidak seharusnya masyarakat modern memandang sebelah mata. Sebaliknya, masyarakat diimbau untuk memberi perhatian lebih pada setiap segmen kebudayaan Dayak. Dengan harapan eksistensi kebudayaan tersebut akan tetap terjaga.

Penutup

Kebudayaan Dayak menyimpan berjuta keunikan yang sangat potensial untuk digali, sebagai penambah devisa maupun sebagai identitas yang membanggakan bangsa. Meski keunikan tersebut telah diusangkan masa, belum terlambat untuk kembali berbenah. Pembenahan dilakukan mulai dari suku Dayak itu sendiri dengan dukungan pemerintah pusat maupun daerah dan elemen-elemen terkait.

Ditekankan sekali lagi, yang terpenting di sini adalah tekad untuk tetap berpegang pada nilai-nilai budaya leluhur. Masalah apakah muda-mudi Dayak yang telah berpendidikan tinggi mau menjalani keunikan tersebut atau tidak tetap dikembalikan pada hati nurani masing-masing. Setidaknya, keunikan yang lazim diteruskan pada era global dapat dipertahankan eksistensinya.

Semoga Dayak yang merupakan jantung Borneo tetap bisa berdetak untuk memompakan pesonanya ke pelosok tanah air!

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 12:33 PM
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

No comments:

Post a Comment

Silakan centang "Notify me" agar Anda memeroleh pemberitahuan.

Entri Populer