Monday, September 20, 2010

Wajah di Balik Supernova

Tak ada seorang pun yang dapat memungkiri bahwa alam menyimpan banyak rahasia. Sebagian besar rahasia itu belumlah terjamah oleh tangan ataupun pikiran manusia. Satu di antara rahasia alam yang masih menyisakan tanda tanya serta mengundang keingintahuan sebagian besar orang adalah peristiwa supernova.
Sebenarnya apakah supernova itu? Supernova berasal dari kata super yang berarti luar biasa, istimewa, sangat, lebih, serta kata nova yang berarti baru. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia hal 1107, supernova diartikan sebagai bintang meledak berukuran besar.
Secara harfiah, supernova merupakan peristiwa lahirnya sebuah bintang. Namun terkait dengan ilmu Astronomi, supernova merujuk kepada peristiwa meledaknya sebuah bintang. Satu hal yang pasti, bintang-bintang yang mengalami supernova adalah bintang yang sudah tua.
Seperti yang kita ketahui, bintang adalah benda angkasa yang bisa mengeluarkan cahayanya sendiri. Cahaya tersebut bersumber dari reaksi fusi yang terjadi di inti bintang. Reaksi fusi yaitu reaksi penggabungan 4 atom hidrogen menjadi 1 atom helium yang menghasilkan energi yang dibutuhkan untuk menjaga kestabilan bintang itu sendiri. Sebagian energi tersebut berubah menjadi panas, sementara sebagian lainnya menjadi cahaya.
Saat persediaan hidrogen di dalam tubuh sebuah bintang telah habis, maka reaksi fusi tidak akan bisa berlangsung. Akibat dari tidak ada energi yang menopang tubuhnya, maka bintang tersebut akan menggembung. Tidak lama kemudian, terjadilah ledakan mahadahsyat yang kita sebut sebagai supernova.

Apakah Pernah Terjadi Supernova?
“Apakah supernova pernah terjadi? Kalau pernah mengapa saya tidak tahu?”, pertanyaan seperti itu seringkali hinggap di dalam pikiran saya beberapa tahun silam. Habis-habisan saya memikirkannya, padahal jawabannya sangat sederhana.
Tidak ada seorang ahli astronomi pun yang dapat memastikan telah berapa kali supernova terjadi. Namun, yang jelas supernova pernah terjadi. Lalu mengapa kita tidak sadar?
Jagat raya ini sangatlah luas. Seberapa luasnya tidak ada yang tahu, yang pasti bumi hanyalah berupa noktah kecil di dalamnya. Menghadapi kasus ini, para ahli astronomi lebih suka menggunakan satuan tahun cahaya dalam menyatakan jarak antarbenda angkasa.
Jarak bumi dengan salah satu bintang terdekat, Proxima Centauri adalah 4.3 tahun cahaya. Jarak bumi dengan bintang-bintang lainnya bisa mencapai jutaan bahkan milyaran tahun cahaya (bisa Anda bayangkan berapa meter jauhnya?). Dari jarak yang sejauh ini dengan pusat supernova, tidak akan ada satu orang manusia bumi pun yang dapat menyadari peristiwa tersebut. Tidak peduli sedahsyat apapun ledakan yang timbul, kita tidak mungkin bisa menyadarinya.
Tahukah Anda bahwa cahaya bintang yang Anda lihat di langit kemarin malam bisa jadi adalah cahaya yang dipancarkan bintang tersebut jutaan tahun yang lalu? Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, jarak antara bumi dan bintang, sebut saja bintang X sangatlah jauh, mencapai jutaan tahun cahaya. Sementara cahaya yang dipancarkan bintang X hanya bisa mencapai bumi dengan kecepatan 3 x 108 m/s. Kesimpulannya, cahaya yang dipancarkan bintang X hari ini, baru bisa sampai ke bumi jutaan tahun mendatang.
Kondisi tersebut di atas menunjukkan kepada kita bahwa bukan tidak mungkin jika bintang yang kita lihat kemarin malam sebenarnya sudah mati, yang tersisa hanyalah cahaya yang dipancarkannya dan cahaya itu sedang merambat menuju bumi.
Itulah kendala yang santer dialami para astronom. Mata dan apa yang tampak sering kali menipu. Apa yang kita lihat belum tentu ada dan apa yang ada belum tentu bisa kita lihat.
Jarak yang jauh menjadikan kita tidak mungkin mengamati peristiwa supernova. Namun, harusnya kita bersyukur untuk itu sebab jika kita bisa mengamati peristiwa supernova (artinya bintang yang meledak itu dekat dengan kita), maka kehidupan di bumi ini tidak akan ada lagi. Pasalnya, kita semua akan tertarik oleh gaya gravitasi ledakan tersebut.

Apakah Matahari Akan Mengalami Supernova?
Matahari adalah bintang (satu-satunya bintang dalam tata surya) sebab dapat memancarkan cahayanya sendiri. Suatu saat nanti matahari akan mati. Matinya matahari tentu saja akan disertai dengan kematian manusia di muka bumi. Hal tersebut bukan disebabkan karena manusia kehabisan suplai energi cahaya, tetapi karena gaya gravitasi matahari akan menarik bumi beserta isi tata surya lainnya.
Akan tetapi, tidak ada yang perlu kita khawatirkan. Saat ini matahari baru menghabiskan setengah masa hidupnya, masih butuh waktu milyaran tahun lagi untuk sampai ke tahap kematian matahari.
Satu hal yang perlu diingat, matahari tidak akan mengalami supernova karena ukurannya yang kecil. Bintang-bintang yang mengalami supernova hanyalah bintang raksasa dan maharaksasa yang berwarna merah dan dingin. Bintang-bintang kecil seperti matahari akan mati dengan tenang tanpa ledakan.
Menjelang kematiannya, matahari juga akan menjadi merah dan membesar. Di saat inilah seluruh tata surya akan tertarik kepada pusatnya. Namun, beberapa waktu kemudian, matahari akan mengecil (jauh lebih kecil dari ukurannya sekarang), ia bertahan dalam bentuk seperti itu atau akhirnya lenyap perlahan-lahan.
Proses kematian serupa juga akan dialami oleh bintang-bintang seukuran matahari. Untuk bintang-bintang yang lebih kecil dari matahari, white dwarft atau bintang katai putih akan menjadi akhir perjalanan hidup mereka. Lalu bagaimana dengan kematian bintang-bintang yang jauh lebih besar dari matahari? Tentu saja supernova jawabnya.

Wajah di Balik Supernova
Pernakah Anda bayangkan, apa yang terjadi setelah supernova? Apakah bintang yang meledak itu akan lenyap seiring dengan supernova? Atau justru akan lahir bintang baru dari puing-puing supernova? Proses evolusi bintang raksasa dan maharaksasa tidak berakhir dengan sebuah supernova.
Ketika sebuah bintang raksasa mengalami supernova, bagian luar yang meledak akan membentuk nebula sementara bagian inti bintang tersebut akan mengecil menjadi sebuah bintang yang disebut bintang neutron atau Pulsar (Pulsating Radio Star).
Bintang neutron adalah bintang yang sangat kerdil, diameter rata-ratanya hanya 10 kilometer. Kebanyakan pulsar tidak tampak oleh teleskop optik biasa (yang mengandalkan cahaya) dan hanya bisa dideteksi keberadaannya dengan radio teleskop (yang mengandalkan gelombang radio). Alasannya yaitu karena pulsar seperti namanya memancarkan gelombang elektromagnetik berupa pulsa radio yang bisa dengan gampang diterima signalnya oleh radio teleskop.
Ketika sebuah bintang maharaksasa, yang massanya lebih dari 3 kali massa matahari runtuh karena gaya gravitasi mereka sendiri atau mengalami supernova, maka beberapa daerah hitam akan terbentuk. Daerah tersebut dinamakan black hole (lubang hitam). Lubang hitam memiliki gaya tarik yang sangat besar, diduga akan menarik apapun, termasuk gelombang cahaya yang melewatinya.

Penutup
Apa yang dipaparkan di atas hanyalah sebagian kecil dari misteri supernova. Masih banyak rahasia supernova yang menanti untuk dikuak. Keterbatasan kemampuan menjadikan kita tidak sanggup mengupas tuntas alam semesta ini. Space probe secanggih milik NASA sekalipun tidak akan mampu menjelajahi ruang angkasa dan meneliti tentang supernova.
Untuk itu, kita hanya bisa menerka berdasarkan bukti-bukti yang telah aada. Namun, seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan terknologi, hal-hal yang selama ini berusaha disimpan rapat-rapat oleh semesta bisa saja terkuak.
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 2:52 PM
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

No comments:

Post a Comment

Silakan centang "Notify me" agar Anda memeroleh pemberitahuan.

Entri Populer