Monday, September 20, 2010

Siaga Kanker Leher Rahim

Mungkin Anda sudah bosan dengan imbauan dan segala bentuk propaganda yang berkaitan dengan preventif kanker. Bahkan, mungkin Anda sendiri sudah menghafal dengan lancar (tanpa melaksanakan?) bagaimana kiat untuk mencegah kanker akibat terlalu sering mendengar dan membacanya. Begitupun, kita akan kembali mengupas sedikit tentang kanker, yang dalam hal ini adalah kanker leher rahim.

Kanker leher rahim adalah pembunuh nomor satu para wanita di Indonesia dan negera berkembang lain. Setidaknya, setiap tahun terdapat 500.000 penderita kanker leher rahim (ironisnya sebagian besar dari mereka berada di negara berkembang).

Namun, sifat kanker leher rahim berbeda dengan kanker indung telur atau kanker payudara sebab merupakan satu-satunya kanker pada organ reproduksi wanita yang bisa dicegah. Progesivitas kanker leher rahim sangat lambat sebelum menuju ke stadium tinggi, bisa mencapai waktu puluhan tahun. Oleh karena itu, pendeteksian dini akan sangat membantu dalam hal penurunan angka kematian.

Sembilan puluh lima persen kanker leher rahim disebabkan oleh infeksi Human Papiloma Virus (HPV) yang menular melalui beberapa cara, terutama secara seksual. Sedangkan penyebab lima persen sisanya belum diketahui secara pasti. Penyakit ini lebih banyak menyerang wanita-wanita yang memiliki faktor risiko, antara lain: mempunyai banyak anak, merokok, bersenggama pada usia muda, memiliki pasangan seksual yang lebih dari satu, serta memakai pil kontrasepsi (masih kontroversi). Namun, bukan tidak mungkin seseorang tanpa faktor risiko menderita kanker leher rahim.

Perjalanan kanker leher rahim didahului dengan lesi prakanker yang disebut displasia. Displasia bukanlah bentuk kanker tetapi akan mengganas menjadi kanker jika tidak diatasi. Displasia sendiri juga dikotak-kotakkan lagi menjadi beberapa katagori, yaitu displasia ringan, sedang, dan berat. Masing-masing memakan waktu bertahun-tahun untuk berkembang ke tahap berikutnya. Artinya, seorang wanita memiliki waktu bertahun-tahun pula untuk mencegah terjadinya kanker leher rahim. Peluang untuk sembuh total terbuka dengan lebar jika hanya dijumpai displasia.

Jika displasia tidak diterapi atau tidak terdeteksi maka akan terjadilah apa yang disebut dengan kanker leher rahim. Kanker leher rahim juga dibagi dalam beberapa stadium, mulai dari stadium 0 sampai stadium IV. Semakin tinggi stadium penyakit maka semakin jelek prognosisnya. Mereka yang datang dengan kanker leher rahim stadium I berpeluang 85% untuk bertahan hidup selama 5 tahun. Sementara stadium II 42-70%, stadium III 26-42%, dan stadium IV hanya 0-12%. Kanker leher rahim stadium III dan IV, bahkan stadium IIb telah menyebar ke daerah lain (di luar rahim). Artinya, sekalipun rahim telah diangkat melalui operasi, sel-sel kanker tetap tertinggal di dalam tubuh dan dapat terus berkembang. Sementara, radiasi kanker juga tidak optimal lagi pada stadium IV. Oleh karena itu, terapi yang dilakukan pada kanker leher rahim stadium lanjut jarang bersifat kuratif (menyembuhkan) tetapi lebih bersifat paliatif (hanya meningkatkan kualitas hidup penderita).

Sebagian besar pasien di Indonesia, khususnya golongan menengah ke bawah datang pada dokter dengan stadium lanjut yang angka harapan sembuhnya sudah sangat menurun. Mereka datang dengan keluhan haid yang banyak dan tidak teratur, anemia, tubuh mengurus, keluar cairan berbau, nyeri panggul, kencing berdarah, tungkai yang membengkak, dan/atau pendarahan anus. Stadium dini kanker leher rahim sering berlangsung tanpa gejala, atau paling tidak hanya keputihan, pendarahan setelah senggama, dan haid yang memanjang. Gejala-gejala pada stadium dini sering dianggap sebagai hal yang lumrah/fisiologis sehingga kurang digubris. Itulah yang menyebabkan mengapa banyak kasus kanker leher rahim yang terlambat ditangani. Di samping itu, kurangnya sosialisasi dan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan kanker leher rahim juga turut mengambil andil. Padahal, seperti yang telah disebutkan, pencegahan kanker leher rahim ini sangat sederhana dan murah.

Selain dengan menghindari faktor risiko, pencegahan kanker leher rahim dilakukan dengan uji tapis/uji penyaring. Metode yang paling terkenal dan masih menjadi standard emas adalah Pap’s smear. WHO (World Health Organization) menyarankan semua wanita yang aktif secara seksual atau berada dalam usia reproduksi untuk melakukan Pap’s smear satu kali dalam setahun. Pap’s smear dapat mendeteksi sel-sel abnormal (mulai dari displasia sampai kanker) sekalipun penderita belum merasakan gejala apa-apa atas kelainan di dalam tubuhnya. Dengan demikian, pengobatan dapat dilakukan sesegera dan seoptimal mungkin.

Pap’s smear dilakukan dengan memasukkan alat yang disebut spatula ayre ke dalam liang kemaluan untuk memperoleh contoh sel pada leher rahim. Contoh sel itulah yang akan dibaca dan diinterpretasikan untuk menentukan ada tidaknya kelainan.

Selain Pap’s smear, dewasa ini pendeteksian kanker leher rahim juga dapat dilakukan dengan tes yang menggunakan bahan kimia asam asetat (asam cuka) 5% yang harganya terbilang murah, atau dengan preparasi tipis.

Metode pencegahan lain yang marak belakangan ini adalah imunisasi. Beberapa artis gencar melakukan kegiatan imunisasi HPV untuk mencegah kanker leher rahim sehingga tidak heran jika awam juga mengekor jejak mereka. Upaya ini sebenarnya sah-sah saja tetapi tidak terlalu dianjurkan. Pasalnya, virus HPV memiliki banyak tipe. Sementara, imunisasi yang diberikan sampai tiga kali itu, hanya dapat memproteksi seseorang dari satu atau paling banyak dua tipe HPV. Meski HPV yang paling banyak menyebabkan kanker leher rahim adalah tipe 16 dan 18, tidak tertutup kemungkinan bagi tipe yang lain untuk menyerang. Di sisi lain, vaksin kanker leher rahim sendiri terbilang baru dan masih belum terlalu ramai dipasarkan di negara asalnya (mungkin karena masih dilakukan uji coba keamanan produk di negara-negara berkembang).

Oleh karena itulah, standard emas pencegahan lini pertama untuk kanker leher rahim masih Pap’s smear. Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? Tepatnya, pengobatan dini pun masih lebih baik daripada pengobatan lewat waktu.

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 2:44 PM
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

No comments:

Post a Comment

Silakan centang "Notify me" agar Anda memeroleh pemberitahuan.

Entri Populer