Tuesday, September 21, 2010

Nak, Tidur Yuk, Sayang!

Belakangan ini Vivian selalu tampak lesu di kantor. Berkali-kali ia memenuhi cangkirnya dengan kopi hanya agar tidak terus menguap dan kedua mata bisa tetap terbuka hingga jam kerja berakhir. Kejadian itu berlangsung setiap hari dan tentu saja turut mempengaruhi produktivitas Vivian.

Usut punya usut ternyata semua itu bermula dari kegemaran Nayla, putri Vivian yang kini berusia 2 tahun untuk tidur larut malam, bahkan tidak jarang dini hari. Sebagai ibu yang bertanggung jawab, meski capek dan malam telah meninggi, mau tidak mau Vivian harus menemani putri sematawayangnya itu, mulai dari membacakan dongeng sampai menemani menonton DVD film Spongebob. Jika kemauan Nay tidak dituruti, maka bocah itu akan menangis sejadi-jadinya.

Begitu memiliki anak, tidak jarang orang tua harus mengeset ulang jam biologisnya untuk disesuaikan dengan si kecil. Terlebih lagi pada bulan-bulan pertama di mana kita harus bangun jika ia terjaga karena lapar atau mengompol. Memberi perhatian kepada anak adalah kewajiban tetapi apa itu berarti kita harus mengorbankan jam tidur? Toh kita bukan Napoleon yang bisa tidur hanya 3 jam per hari.

Kebutuhan tidur anak ditentukan oleh usia. Sebagai contoh, bayi baru lahir (neonatus) butuh tidur 16-20 jam per hari. Bayi usia 2-12 bulan butuh waktu tidur 9-12 jam pada malam hari dengan tidur siang 1-4 jam sehari. Anak usia 1-3 tahn butuh waktu tidur 12-13 jam yang sudah termasuk dengan tidur siang. Sebagai catatan, banyak proses penting, mulai dari pertumbuhan sampai pembuangan racun terjadi saat anak tidur.

Anak Anda tentu tidak mengerti kalau kebiasaan tidurnya yang turut menyita jam tidur kedua orang tua bukanlah sesuatu yang baik. Oleh karena itu, jangan sekali-kali Anda menyalahkannya! Jika anak Anda masih bayi mungkin akan butuh waktu dalam hitungan minggu sampai bulan untuk bisa tidur sesuai dengan pola yang benar. Bahkan, jika itu sudah terjadi pun, tetap tidak ada jaminan akan terus berlangsung demikian.

Belajarlah untuk bersabar menghadapi ulah mereka! Bisa saja pengaturan pola makan mereka sedikit keliru. Terlalu kenyang atau terlalu lapar mungkin saja adalah alasan mengapa mereka sulit tidur. Di samping itu, jangan berikan makanan atau minuman yang bisa mengusir kantuk, seperti kopi dan teh.

Sebaiknya kita membuat rutinitas. Misalnya setiap malam sebelum tidur, berikan susu, pakaikan piyama, bacakan cerita atau beri sentuhan-sentuhan kelembutan sampai ia mengantuk. Setelah matanya tampak sayu, letakkan di tempat tidur. Lakukanlah hal yang sama setiap malam! Usahakan selalu menidurkannya di tempat yang sama. Akibatnya, ia belajar bahwa jika diletakkan di tempat tidur berarti waktu tidur telah tiba. Dengan kata lain, buatlah ia mengasosiasikan kamar dan ranjangnya dengan saat untuk tidur, bukan saat untuk bermain atau bersenda gurau.

Tidur adalah salah satu cara memulihkan kondisi badan supaya fit. Jaga supaya mereka tidak melakukan aktivitas berlebih sesaat menjelang tidur. Hal tersebut hanya akan membuat anak jauh lebih segar dan melewatkan waktu tidur.

Langkah lain yang perlu mendapat perhatian kita adalah pengaturan pola tidur anak. Jangan sampai ia tidur berlebihan di siang hari sehingga tidak bisa tidur di malam hari.

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, bukan? Jadi, jika Anda tidak ingin anak tidur malam, sebaiknya Anda dan pasangan juga menghindari kebiasaan ini. Di sisi lain, ada kalanya anak memilih untuk tidur malam hanya agar bisa bersama Anda. Mungkin seharian ia ditinggal dengan perawat karena baik Anda maupun pasangan harus bekerja di luar rumah. Oleh karena itu, ia mencuri sedikit waktu tidur untuk bisa mendapat sedikit perhatian Anda. Solusinya, kalau bisa sempatkanlah bermain dengannya saat malam belum terlalu larut.

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 4:33 PM
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

No comments:

Post a Comment

Silakan centang "Notify me" agar Anda memeroleh pemberitahuan.

Entri Populer