Monday, September 20, 2010

Ibu dan Anak-Anaknya

Anak lelaki tentu saja berbeda dengan anak perempuan. Bukan saja dalam hal penampilan, perkembangan psikologis mereka juga berbeda. Namun, banyak orang tua yang menyamaratakan pola pengasuhan keduanya atau hanya membiarkan hubungan dengan anak—laki-laki maupun perempuan—mengalir alami layaknya air.

Sigmund Freud, seorang psikolog terkemuka asal Wina pernah mengutarakan fase-fase perkembangan yang akan dilalui seorang anak. Adapun fase tersebut adalah fase oral, fase anal, fase falik, dan fase laten. Setiap fase yang dilewati akan membentuk kepribadian dan karakter anak. Jika terlalui dengan baik, maka anak akan terbekal dengan sifat baik oleh fase yang baru ia selesaikan. Jika terlalui dengan buruk, maka jangan heran jika anak memiliki karakter yang buruk atau kemungkinan lain adalah fase yang bersangkutan akan terus berlangsung hingga batas waktu yang tidak bisa diprediksi.

Untuk menerangkan lebih lanjut mengenai perbedaan psikologis anak lelaki dan perempuan, kita akan mengupas mengenai fase falik. Fase ini berlangsung mulai dari usia 3 tahun dan berakhir saat berusia 5 tahun. Pada fase phalik, anak perempuan cenderung menginginkan perhatian dari ayahnya dan menganggap ibunya sebagai saingan, hal yang berkebalikan juga terjadi pada anak lelaki. Namun, kecemburuan terhadap orang tua berjenis kelamin sama akan memudar begitu sang anak menyadari bahwa ibu atau ayah bukanlah saingannya.

Stadium ini merupakan dasar identitas gender. Keberhasilannya menjadikan seseorang lebih kompeten dalam menghadapi tantangan di kemudian hari. Sementara kegagalan fase falik, selain mengakibatkan distorsi fase selanjutnya juga berkemungkinan membuat anak tidak menyenangi orang tua yang berjenis kelamin sama dengannya serta berpeluang membuat seseorang ingin memiliki jenis kelamin yang berbeda dengan yang ia miliki saat ini.

Ibu dan Sang Putra

Menurut teori, anak laki-laki selalu memiliki keinginan untuk mendapat perhatian lebih dari ibu. Ibu perlu mengalokasikan waktu untuk bermain dengan anak lelaki. Permainan yang dimaksud di sini juga mencakup segala jenis aktivitas yang mungkin tidak dilakukannya di sekolah atau kelompok bermain. Jangan ragu untuk menerima ajakannya bermain permainan yang sering dicap sebagai milik anak perempuan, semisal masak-masakan, rumah-rumahan, bahkan boneka. Anda tahu mengapa?

Alasannya bisa dicontohkan dengan seorang lelaki dewasa yang baru menjadi ayah. Ia akan kebingungan, seperti orang asing, tidak mengerti bagaimana harus menggendong anak, tidak mengerti bagaimana harus mengurus rumah, bahkan tidak mengerti bagaimana harus memasak air.

Jangan khawatir ia akan menjadi kemayu di kemudian hari. Jika fase falik berlangsung baik maka ia akan tetap mendapat identitas gendernya. Untuk saat ini, doronglah putra Anda melakukan apapun yang diminatinya. Misalnya, jika ia menyukai buku dan penulisan, sediakan waktu bersamanya untuk membacakan dongeng atau membuat ilustrasi cerita. Asal kita tidak terpaku pada stereotip, ada banyak kemungkinan yang bisa membuat putra Anda tumbuh menjadi pemuda yang berwawasan luas, jauh dari prediksi Anda sebelumnya.

Ibu dan Sang Putri

Anak kecil suka bermain dengan kelompok yang bergender sama. Hal ini sah-sah saja, tetapi tentu saja akan mempersempit cakrawalanya. Namun di rumah, biasanya anak perempuan lebih ingin mendapat perhatian dari ayahnya. Ini bukan berarti ia tidak membutuhkan ibu meski di alam bawah sadar ia sering menganggap sang bunda akan merebut kasih sayang ayah darinya.

Luangkanlah lebih banyak waktu untuk bersama bidadari kecil Anda. Jika bisa sertakan suami. Buat si kecil merasa yakin bahwa Anda tidak akan merebut apapun darinya, melainkan justru Anda akan melindunginya.

Sama seperti kasus anak lelaki, jangan ragu untuk mengajaknya bermain permainan anak lelaki. Di masa seperti ini, ia juga butuh aktivitas fisik sama halnya dengan anak lelaki. Jadi, ia bukan hanya duduk manis dan menyusun boneka-boneka lalu mengajak mereka bicara. Sediakanlah atmosfer yang memungkinkannya melakukan hal yang beragam! Ini penting untuk perkembangannya.

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 2:36 PM
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

No comments:

Post a Comment

Silakan centang "Notify me" agar Anda memeroleh pemberitahuan.

Entri Populer