Monday, September 20, 2010

Anak yang Ekstra Sibuk

Hari ini adalah Minggu, Laura (7 tahun) harus les balet dan setelah itu les sempoa. Setiap saat, hari-harinya selalu dipenuhi rutinitas. Harus sekolah kemudian les ini itu, mulai dari bahasa Inggris sampai piano, melukis sampai matematika. Semua telah terjadwal sehingga bisa dibilang Laura hampir kehilangan watu untuk bermain kecuali saat jam istirahat di sekolah.

Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Demikian pula dengan orang tua Laura yang ingin menjadikan anaknya menjadi seorang yang cerdas dan penuh talenta. Diakui atau tidak, hal tersebut kerap kali merupakan ambisi tersembunyi yang hendak diwujudkan melalui si kecil. Ibu tidak pandai melukis, mau belajar tapi sudah kepala 3, tak pelak anaklah yang menjadi pelampiasan. Lalu sbenarnya apakah anak memang membutuhkan les?

Tidak menjadi masalah jika anak mengikuti beragam kegiatan, asal sesuai dengan kebutuhan dan ia tidak merasa terbebani. Di samping itu, yakinkan bahwa anak memang menyukai setiap kegiatan yang ia lakukan. Jangan sampai ia merasa les hanya kewajiban yang membosankan, yang ia jalankan karena takut ayah atau ibu marah. Jika hal demikian terjadi, lebih baik kita mulai berpikir apakah perlu dilanjutkan atau tidak.

Masa kecil hanya datang sekali. Merupakan dosa besar jika kita merampas kesenangannya dalam menikmati masa kecil dengan kedok ingin membekalinya dengan berbagai macam ilmu dan keterampilan. Tentu saja Anda tidak ingin ia melampiaskan hasrat untuk bermain di saat dewasa kelak.

Pastikan Anda memberi stimulasi yang tepat dibutuhkan anak sesuai dengan perkembangan usia guna merangsang potensi dan bakat yang mereka simpan. Namun, apapun itu, jangan sekali-kali merasa berhak merebut kesempatan mereka untuk bermain.

Sebelum memutuskan untuk memasukkan si kecil ke kursus, diskusikanlah terlebih dahulu dengannya. Gunaka bahasa yang mereka pahami, jelaskan mengapa ia harus kursus. Gambarkan pula bagaimana keadaan di sana tetapi jangan menambah bumbu hanya agar ia mau kursus. Pasalnya, ia akan merasa dibohongi dan Anda bisa kewalahan menghadapi hal ini nanti. Mungkin akan lebih mudah baginya untuk menyetujui usul Anda jika ada teman yang ia kenal kursus di sana.

Di atas semua itu, kita harus yakin bahwa ia memang membutuhkan les, misalnya les matematika karena guru sering membuat laporan kalau si kecil mengalami masalah di pelajaran matematika. Namun, selagi Anda merasa mampu untuk membimbingnya belajar di rumah, sebaiknya Anda saja yang menjadi guru les. Di samping menghemat biaya dan memungkinkan Anda mengetahui tahap perkembangannya, juga mendekatkan hubungan Anda dan anak.

Satu hal yang tidak boleh terlewatkan adalah memberinya dukungan. Jangan sampai Anda sibuk dengan pekerjaan Anda dan membiarkan si kecil sibuk sendiri dengan rutinitasnya. Pada malam hari, tanyakan apa yang telah terjadi selama satu hari. Bagaimana suka dukanya di sekolah dan tempat kursus. Biarkan ia berceloteh. Selain sebagai media evaluasi, ini juga sangat baik bagi perkembangannya. Jika Anda merasa ia tertekan, sebaiknya jangan ragu untuk menghentikan.

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 2:39 PM

2 comments:

  1. Jadi anak itu idealnya mulai disekolahkan pada umur berapa y, dok? atau beda2 untuk setiap anak?

    ReplyDelete
  2. Masalahnya sekarang sekolah yang seperti apa, kalau SD ya tentu saja idealnya 5-6 tahun. Sekolah sejenis playgroup yang ditujukan untuk batita atau balita juga tidak terlalu buruk, bahkan membantu perkembangan anak asalkan kita paham bahwa anak di usia seperti itu harus menghabiskan lebih banyak waktu di rumah dan belajar lebih banyak dari keluarga sebagai lingkungan dominannya.
    ^^

    ReplyDelete

Silakan centang "Notify me" agar Anda memeroleh pemberitahuan.

Entri Populer